Monday, May 21, 2012
 

Si Bebal III

Assalamu’alaikum WW,

“Saya hampir tak pernah libur, Yang Mulia. Pada malam Minggu, selain menemui TKI, saya pergi ke istana kerajaan mengajar poco-poco dan dansa. Itu adalah bentuk pendekatan kebudayaan,” demikian sepenggal pledoi atau pembelaan diri Jenderal Polisi (Purn.) Rusdihardjo di dalam sidang pengadilan tindak pidana korupsi di Jakarta pada hari Rabu (27 Mei) kemarin. Ia dituduh menikmati uang hasil korupsi  sejumlah 2,2 milyar rupiah yang diperoleh dari pungutan keimigrasian di atas nilai resmi,  saat bertugas sebagai duta besar RI untuk Kerajaan Malaysia antara Januari 2004 hingga Oktober 2005. Ia mengaku tidak pernah tahu tentang adanya ‘pungutan liar’ tersebut dan menganggap hal tersebut sebagai warisan kebijakan para dubes sebelumnya. Ia merasa telah ‘diakali’ dan disakiti; terlebih mengingat begitu banyak jasa yang telah dilakukannya dan tanda jasa yang diterimanya: menyelamatkan 16 TKI dari tiang gantungan, repratriasi (pemulangan) TKI tak-berdokumen, membangun tempat penampungan 250 TKI, memperoleh gelar Dato Sri Indra Mahkota dari Sultan Pahang, penghargaan PBB saat bertugas dalam pasukan perdamaian di Kamboja, serta terlibat dalam jaringan internasional pemberantasan narkoba saat menjadi Kapolri.

Duapuluh hari sebelumnya, di pengadilan yang sama, Bupati Minahasa Utara, Vonnie Anneke Penambunan sampai terisak saat menyatakan ketidaktahuannya bahwa proses penunjukan langsung PT MDI yang dipimpinnya, sebagai pelaksana proyek studi kelayakan pembangunan satu lapangan udara di Kabupaten Kutai Kertanegara, telah menyalahi aturan. Ia mengakui bahwa seluruh proses pengurusan proyek dilakukan oleh orang lain dan ia hanya menandatangani berkas-berkas yang diperlukan. Mantan Nona Minahasa inipun merasa adalah hal yang wajar bila ia kemudian memberikan sejumlah uang kepada panitia pengadaan barang dan jasa: ”Saya hanya membagi kelebihan rezeki. Ini saya lakukan karena kemurahan Tuhan kepada saya.”

Hampir setahun yang lalu, Prof. DR. Ir. Rokhmin Dahuri, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan juga mengajukan pledoi ‘ketidaktahuannya’ bahwa pungutan ‘dana non bujeter’ terhadap instansi-instansi pusat dan daerah yang berada dalam lingkup kerja departemennya adalah suatu tindakan yang liar melanggar hukum. Toh, menteri sebelumnya juga mempraktekkannya? Namun ia tidak berkutik saat jaksa dan mantan anakbuahnya sendiri menyatakan bahwa ia telah menggunakan dana tersebut untuk membeli sebuah  Toyota Camry  dengan STNK atas nama adiknya. Klaimnya yang lain pun dimentahkan, yaitu  bahwa ia juga menggunakan dana non-bujeter tersebut bagi kepentingan para nelayan; karena sayangnya, hanya nelayan-nelayan pantai Cirebon saja, kota dimana ia lahir dan dibesarkan, yang sempat merasakan bantuan tersebut.

Sulit bagi kita untuk meng-klaim bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi bila kitalah yang berada dalam jabatan-jabatan tersebut. Karena, rasanya kita-kita  ini juga tidaklah lebih heroik, cantik ataupun cerdik bila dibandingkan dengan ketiga terdakwa di atas? Kalaupun ada keyakinan bahwa kiranya diri kita lebih beriman, … lebih beragama, … sehingga lebih layak untuk menjadi pemimpin, … namun bukankah juga banyak contoh nyata tentang para cendekia agama yang akhirnya terjerembab oleh “ketidaktahuan” yang sama?

Mungkin disinilah kita bisa memahami mengapa Allah SWT sempat meminta ummat Muhammad SAW untuk menghadapNya sebanyak 50 kali dalam waktu 24 jam, atau setara dengan melakukan solat setiap 15 menit di luar waktu tidur yang 8 jam per harinya! Mungkinkah itu suatu pertanda akan betapa ringkihnya, … betapa cepat jatuhnya, keimanan manusia? Lalu, lebih penting lagi, apa kiranya yang perlu dilakukan agar kita tidak ‘terjerembab’ diantara solat-solat yang kini hanya wajib dilakukan 5 kali selama 16 jam kita terjaga?

Wassalam,
HaBe

Share
 

Statistik

Assalamu’alaikum WW,
“Bunda … bunda … lenganku sakit … Aku takut, bunda. Tolonglah aku …”, Begitulah rintihan lirih berulang seorang anak perempuan berusia 10 tahun kepada kedua orangtuanya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Anak malang tersebut terbaring di atas tembok tinggi lantai sekolah bertingkat yang runtuh, dimana tangan kanannya hingga ke bahu tertindih bongkahan beton. Ayah-bundanya di bawah hanya bisa memanggil-manggil nama sang puteri sambil mengingatkan ia untuk tetap bertahan, untuk terus bernafas, karena saat itu tidak tersedia alat dan petugas penyelamat yang memadai untuk dapat mengangkat bongkahan beton yang menghimpitnya. Dua hari anak tersebut mencoba bertahan, namun ketika akhirnya pertolongan tiba, nyawanya telah pergi menghadap Sang Pencipta.

Kedua orangtua yang sudah berusia 35 tahunan tersebut adalah satu dari ribuan, bahkan puluhan ribu pasutri yang kehilangan satu-satunya anak mereka akibat gempa besar yang melanda Provinsi Sichuan yang berada di baratdaya Cina pada hari Senin minggu lalu, saat sekolah-sekolah masih dipenuhi oleh para pelajar yang riang menimba ilmu untuk menyongsong masa depan. Mungkin lebih dari 7000 kelas rusak binasa dan diperkirakan sekitar 40 persen dari total korban jiwa yang ditimbulkan oleh bencana alam ini adalah anak-anak, di negeri dimana hampir setiap pasutri hanya (boleh) memiliki satu anak saja.
Sementara, dari Jakarta, satu berita kecil menyebutkan bahwa dalam tiga bulan terakhir ini, sekitar 600 ‘bikers’ (pengendara sepeda motor) melepas nyawanya akibat kecelakaan lalulintas. Artinya, baru di Jakarta saja, rata-rata sudah 6,6 orang meninggal per hari akibat kecelakaan lalulintas. Statistik kematian tersebut tentunya dapat terus ditambahkan dengan penyebab-penyebab kematian lainnya seperti pembunuhan, bunuh diri dan busung lapar.

Bagi sebagian besar orang, pembaca berita, pengumpul dan pengolah data kependudukan, … bagi kita-kita ini …, kesemuanya itu tidak lebih dipandang sebagai angka statistik semata. Betul bahwa beritanya dan besaran angkanya akan mampu menimbulkan sedikit rasa iba di hati. Namun, sempatkah terpikirkan oleh kita bahwa suatu saat nanti bisa saja diri kita sendiri atau anggota keluarga batih kita sendiri atau keluarga dekat dan jauh lainnya yang menjadi korban, melengkapi angka-angka tersebut? Bila demikian adanya, barulah kita akan tersadarkan untuk menilai apakah pantas hal itu terjadi? Pantaskah seseorang yang dekat dengan diri kita mati akibat tindak kejahatan, kelalaian, kemalasan, keengganan, ketidakpedulian yang dilakukan orang lain? atau akibat dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup dasar? Siapkah kita menjadi dua orang tua dari seorang anak perempuan malang tersebut diatas? Relakah kita menerima kenyataan bahwa gedung sekolah tersebut diduga dibangun dengan spesifikasi di bawah standar? Wajarkah berita kematian seorang balita akibat busung lapar? Maha benar Allah dengan sabdanya bahwa tindakan membunuh satu orang, baik secara langsung maupun tidak langsung, sama saja dengan melakukan pembunuhan terhadap seluruh ummat manusia, karena bila orang yang terbunuh itu adalah diri kita sendiri atau anggota keluarga tersayang, maka bukankah ‘kiamat’ sudah rasanya dunia ini?

Statistik kiranya bukanlah sekedar deretan angka. Ia adalah catatan sejarah hasil perbuatan baik dan buruk dari manusia-manusia yang terlibat didalam penciptaannya. Sungguh cupatlah kita bila tidak mau belajar dari sejarah. Sungguh rendahlah ahlak kita bila kita meremehkan maknanya, … hanya karena kita tidak atau belum masuk didalamnya. Disinilah kesadaran kita muncul untuk tidak lagi menutup mata atas kekurangan, kelalaian, kesalahan atau kejahatan yang dilakukan sesama, karena cepat atau lambat kita sendirilah yang akan menjadi korbannya.
Wassalam,
HaBe

Share
 
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »