Thursday, February 23, 2012
 

Si Bebal

Assalamu’alaikum WW,

Sebagai mantan pegawai pemerintah yang kira-kira se-level dengan Jaksa Urip yang tertangkap basah menerima uang suap sebesar 660 ribu USD baru-baru ini, terus terang saya merasa terkhianati secara profesi. Bukan … bukan karena ia hampir saja menerima uang yang setara 10-15 tahun bekerja bagi rata-rata pekerja Australia, setelah memimpin segerombolan jaksa muda selama hanya 6 bulan untuk mengembangkan kasus pengemplangan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) oleh satu-dua obligor; namun lebih karena kebebalan yang telah ditunjukkannya. Mengapa orang yang sepintar, se-level dia (d.p.l. se-level saya) bisa begitu mudahnya tertangkap tangan?

Pertama, kenapa pula dia mau menerima uang kontan? Khan, mestinya mudah saja bagi dia untuk jauh sebelumnya terbang ke Swiss, Leichtenstein, atau ‘tax haven countries’ lainnya untuk membuka rekening bank, sehingga uang bisa di-transfer begitu ‘jasa profesi’ purna dilakoni.

Kedua, ia berangkat dengan mengendarai kendaraan dinas yang ber-pelat nomor Bali, sendirian tanpa supir atau pengawal setelah menginap semalaman di suatu hotel. Lho, pasti dia jarang sekali menonton film-film spion (jangan-jangan kendaraanya juga tidak punya kaca spion?) atau film-film bertema soft-criminal seperti Ocean 11 hingga Ocen 13, sehingga pasti dia mampu mengecoh beberapa mobil minibus Kijang dan sejenisnya yang mencoba membuntutinya.

Ketiga, … nah ini yang paling menyebalkan yang telah dilakukan Jaksa Urip, sehingga saya tidak mau memandang dia sebagai pejabat negara se-level, yang pantas disejajarkan dengan saya secara intelektual, … yaitu dia masih bertanya-tanya dimana letak setepatnya rumah si pemberi suap? Get real man … belum pernah dengar Google Earth? … belum pernah melakukan pengintaian sebelumnya?

Kalau bukan karena bebalnya, maka hanya ada sedikit kemungkinan lain yang menjadikan dia begitu … ya … bebalnya. Yaitu, pertama, dia yakin tidak akan ada orang yang akan mencoba ‘mengganggunya’, khususnya dari rekan se-profesi, baik yang datangnya dari atas, bawah maupun samping. Artinya, ada aspek kerjasama, kalau bukan bahkan ia sebenarnya hanyalah orang suruhan. Kedua, dia sudah terbiasa dengan kegiatan semacam ini, sehingga ‘urat takutnya’ sudah tertimbun dalam oleh ‘lemak-lemak kenikmatan’ (wah, istilah apa pula ini?). Berarti, uang senilai 6 milyar tersebut tidak cukup besar untuk menjadikan jaksa bebal ini untuk lebih berhati-hati.

Jelas jaksa bebal ini benar-benar bebal … koq, bisa sih lulus sekolah hukum? Pendidikan kejaksaaan? … tentunya ia belajar yang namanya operasi rahasia … teknik penjebakan … pengkhianatan …. Hm, siapa ya kira-kira yang menjadi sang pembisik, sehingga tim KPK, koq bisa-bisanya berada pada tempat waktu yang tepat?

Lain kali, sahabat, kalau ente sudah berani membelakangi Tuhan, janganlah sekali-kali berjalan membelakangi teman seperjalanan, … apalagi berjalan sendirian tanpa mereka. Kualat.

Wassalam,

HaBe

Share
 

Investasi

Assalamu’alaikum WW,

Hanya beberapa milimeter saja rekahan yang diketemukan pada satu ruas jalan tersebut, yaitu ruas jalan layang yang menghubungkan City dengan Riverside Highway. Riverside Highway adalah ruas jalan di atas Captain Cook Bridge yang menghubungkan Coronation Drive dengan Pacific Motorway (M1). Namun, Pemerintah Kota Brisbane dengan sigap dan tegas, segera menutupnya, ditengah gerutu, umpatan para pemakai jalan, yang ditingkahi pula oleh komentar pedas serta kritik tajam para pakar transportasi dan pihak oposisi. Ini kisah beberapa bulan yang lalu. Ruas jalan tersebut baru dibuka kembali setelah dilakukan kegiatan-kegiatan pemeriksaan lebih teliti, upaya-upaya perbaikan, uji-uji coba penggunaan yang dimulai dengan beban lalulintas yang ringan hingga beban normal, yang kesemuanya menuntut biaya jutaan dollar, waktu yang berminggu-minggu, serta melibatkan banyak pihak atau pemangku kepentingan. Kesemuanya dilakukan sebagai tindakan pencegahan atas kemungkinan terjadinya ‘bencana’ jembatan/jalan runtuh yang pasti akan memakan korban jiwa dan harta-benda yang sulit diperkirakan nilai dollarnya.

Di belahan bumi yang sama, di lintang yang lebih rendah, Indonesia sedang menghadapi resiko meletusnya Gunung Kelud, dengan tanda-tanda yang sangat jelas. Lalu, kenapa pula masih terjadi ketidaktegasan semua fihak, Pemerintah dan rakyat yang hidup di daerah resiko, didalam memastikan perlunya mengungsi atau tidak? Tidakkah Indonesia belajar dari kasus semburan liar lumpur panas Porong? Bukankah semestinya Pemerintah saat dulu itu, segera saja memerintahkan pengungsian, karena ternyata tidak ada satupun ahli yang dapat memastikan apakah semburan tersebut dapat ditanggulangi atau tidak? Akibatnya, biaya rehabilitasi yang harus ditanggung semua fihak telah jauh melampaui biaya yang perlu dikeluarkan bila sekiranya tindakan preventiflah yang diambil pada saat awal bencana tersebut terjadi.

Keberanian mengambil resiko tidak hanya berarti berani menempuh bahaya (atau dalam kasus ini berarti bersedia menunggu terjadinya bahaya atau menanggung kerugian di masa depan tanpa mau mengalami kerugian saat ini), namun juga berarti berani mencegah terjadinya bahaya (atau dibaca berani mengalami kerugian sekarang ini demi keselamatan atau keuntungan yang lebih besar di masa depan).

Itulah makna investasi, para sahabat, baik bagi kepentingan kehidupan di dunia maupun di akhirat nanti.

Wassalam,

HaBe

Share
 
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »