Assalamu’alaikum WW,
Sebagai mantan pegawai pemerintah yang kira-kira se-level dengan Jaksa Urip yang tertangkap basah menerima uang suap sebesar 660 ribu USD baru-baru ini, terus terang saya merasa terkhianati secara profesi. Bukan … bukan karena ia hampir saja menerima uang yang setara 10-15 tahun bekerja bagi rata-rata pekerja Australia, setelah memimpin segerombolan jaksa muda selama hanya 6 bulan untuk mengembangkan kasus pengemplangan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) oleh satu-dua obligor; namun lebih karena kebebalan yang telah ditunjukkannya. Mengapa orang yang sepintar, se-level dia (d.p.l. se-level saya) bisa begitu mudahnya tertangkap tangan?
Pertama, kenapa pula dia mau menerima uang kontan? Khan, mestinya mudah saja bagi dia untuk jauh sebelumnya terbang ke Swiss, Leichtenstein, atau ‘tax haven countries’ lainnya untuk membuka rekening bank, sehingga uang bisa di-transfer begitu ‘jasa profesi’ purna dilakoni.
Kedua, ia berangkat dengan mengendarai kendaraan dinas yang ber-pelat nomor Bali, sendirian tanpa supir atau pengawal setelah menginap semalaman di suatu hotel. Lho, pasti dia jarang sekali menonton film-film spion (jangan-jangan kendaraanya juga tidak punya kaca spion?) atau film-film bertema soft-criminal seperti Ocean 11 hingga Ocen 13, sehingga pasti dia mampu mengecoh beberapa mobil minibus Kijang dan sejenisnya yang mencoba membuntutinya.
Ketiga, … nah ini yang paling menyebalkan yang telah dilakukan Jaksa Urip, sehingga saya tidak mau memandang dia sebagai pejabat negara se-level, yang pantas disejajarkan dengan saya secara intelektual, … yaitu dia masih bertanya-tanya dimana letak setepatnya rumah si pemberi suap? Get real man … belum pernah dengar Google Earth? … belum pernah melakukan pengintaian sebelumnya?
Kalau bukan karena bebalnya, maka hanya ada sedikit kemungkinan lain yang menjadikan dia begitu … ya … bebalnya. Yaitu, pertama, dia yakin tidak akan ada orang yang akan mencoba ‘mengganggunya’, khususnya dari rekan se-profesi, baik yang datangnya dari atas, bawah maupun samping. Artinya, ada aspek kerjasama, kalau bukan bahkan ia sebenarnya hanyalah orang suruhan. Kedua, dia sudah terbiasa dengan kegiatan semacam ini, sehingga ‘urat takutnya’ sudah tertimbun dalam oleh ‘lemak-lemak kenikmatan’ (wah, istilah apa pula ini?). Berarti, uang senilai 6 milyar tersebut tidak cukup besar untuk menjadikan jaksa bebal ini untuk lebih berhati-hati.
Jelas jaksa bebal ini benar-benar bebal … koq, bisa sih lulus sekolah hukum? Pendidikan kejaksaaan? … tentunya ia belajar yang namanya operasi rahasia … teknik penjebakan … pengkhianatan …. Hm, siapa ya kira-kira yang menjadi sang pembisik, sehingga tim KPK, koq bisa-bisanya berada pada tempat waktu yang tepat?
Lain kali, sahabat, kalau ente sudah berani membelakangi Tuhan, janganlah sekali-kali berjalan membelakangi teman seperjalanan, … apalagi berjalan sendirian tanpa mereka. Kualat.
Wassalam,
HaBe