Assalamu’alaikum WW,
Siapapun yang lahir dan besar di Indonesia sebelum tahun 1970 tentunya tidak dapat melupakan pahlawan bulutangkis nasional Rudy Hartono yang delapan kali menjadi Juara Tunggal Putra pada Kejuaraan Tahunan All England Terbuka dalam rentang waktu 9 tahun sejak 1968 hingga 1976. Ia pun berhasil menjadi juara pada Kejuaraan Dunia 1980, setelah mengalahkan Liem Swie King yang juga berasal dari Indonesia. Ia juga menyumbang kepada keberhasilan Indonesia didalam menjuarai beberapa turnamen beregu Piala Thomas yang bergengsi itu. Kelincahan gerak, ketenangan sikap serta ketampanan Rudy Hartono pada masa-masa itu mampu memaku masyarakat di depan pesawat TV maupun radio; mampu menyatukan hati masyarakat untuk berdo’a , berharap bagi keberhasilan dia untuk memenangkan setiap pertandingan yang diikutinya. Keberhasilan ataupun kegagalan yang dicapainya seakan menjadi keberhasilan ataupun kegagalan masyarakat Indonesia yang mencintainya.
Bagi penggemar olahraga sepeda, apakah mungkin tidak pernah mendengar nama Lance Armstrong? Ia tidak hanya berhasil untuk tujuh kali berturut-turut (1999-2005) menjuarai ‘Le Tour de France’, namun ia juga berhasil sebelumnya (1996) mengatasi serangan penyakit kanker testikel yang sempat menyebar ke otak dan paru-parunya. Le Tour de France, yang saat ini sedang berlangsung, adalah satu lomba sepeda paling bergengsi di dunia dimana para pesertanya berlomba selama 23 hari dengan menempuh total jarak sekitar 3500 km yang terbagi dalam 21 etape. Ternyata Lance Armstrong tidak saja seorang anak manusia yang bermental baja dan bertenaga luarbiasa, namun ia juga seorang manajer yang mumpuni. Keberhasilan spektakulernya bukan semata dikarenakan oleh kehebatan fisik dan teknik kayuhannya , namun juga oleh dukungan pelatih yang kawakan, serta tim yang tangguh serta persiapan dan metodologi pelatihan yang sangat baik. Iapun berhasil menyatukan para sponsor kedalam satu tim pendukung yang ‘solid’.
Dan baru-baru ini dunia dikejutkan oleh berita keberhasilan Dara Torres, seorang ibu berusia 41 tahun, menjadi anggota tim perenang Amerika Serikat untuk Olimpiade Musim Panas di Beijing pada bulan Agustus mendatang. Dengan demikian ia telah 5 kali menjadi anggota tim Olimpiade AS, sejak Olimpiade Los Angeles tahun 1984, saat dimana sebagian besar lawan tandingnya kini belum lahir. Total 9 medali Olimpiade dimilikinya, termasuk 2 medali emas dan 3 perunggu yang diperoleh pada Olimpiade Sydney tahun 2000 di usia 33 tahun, yang menjadikan ia sebagai atlet wanita yang paling banyak menggondol medali di Sydney. Sampai saat ini ia telah berhasil memecahkan tiga rekor dunia, dimana salahsatu diantaranya dilakukannya pada tahun 1982 di saat ia berusia 14 tahun. Namun keberhasilan yang dicapainya tersebut tidaklah datang begitu saja … bukanlah suatu ‘mukjizat’ yang diperoleh tanpa usaha dan pengorbanan. Pada bulan November tahun lalu, seusai memecahkan rekor Amerika untuk renang jarak 50 m, ia harus menjalani operasi tulang bahu, dilanjutkan dengan operasi sejenis pada lututnya pada bulan Januari 2008. Total ada 13 bekas operasi pada lutut, sikut, bahu, tangan dan jari-jarinya. Dan sebagai atlit renang tertua, tentunya ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa pulih kembali setelah bertanding. Untuk itu ia menghabiskan biaya setidaknya US $100.000 untuk menyewa seorang pelatih kepala, seorang pelatih renang cepat, dua orang pemijat, dua orang pembantu untuk peregangan dan pelemasan otot, seorang ahli tulang dan seorang perawat anak. Ia berhasil membuktikan bahwa menjadi wanita dan baya tidaklah berarti harus berhenti untuk berkarya.
Upaya manusia untuk menjadi yang tercepat atau terkuat, bukanlah sekedar upaya untuk mengukur kehebatan diri sendiri atas kemampuan orang lain. Ia harus dilihat sebagai upaya manusia untuk mengetahui batas potensi diri yang dimilikinya. Upaya tersebut adalah refleksi dari penghargaan, terimakasih atas anugerah fisik dan akal yang diberikanNya. Suatu saat nanti, saat berhasil dicapainya batas teratas dari kemampuan fisik dan akal manusia, mungkinkah manusia semuanya dengan sendirinya tersadarkan bahwa memang ada sesuatu yang melebihi manusia? Bahwa memang ada Sang Pencipta dan Sang Pengatur itu.
Olimpiade, satu pesta olahraga dunia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali, adalah salah satu perayaan manusia atas anugerah kemanusiaan yang diperolehnya. Upaya setiap atlit untuk menjadi yang terbaik tidak hanya sekedar untuk menyatukan sentimen bangsa masing-masing, namun juga untuk mengetahui sejauh mana ummat manusia sejagat berhasil mengenal dirinya sendiri.
Wassalam,
HaBe
[Mari kita ucapkan selamat ber-OlimPPIA bagi sahabat pelajar Indonesia se-Australia, yang penyelenggaraannya akan dilangsungkan di Brisbane bertepatan dengan Olimpiade Musim Panas di Beijing pada bulan Agustus mendatang]