Monday, February 6, 2012
 

24/7

Assalamu’alaikum WW,

Bagaimana mungkin Tuhan cuma menugaskan dua malaikat saja, Raqib dan Atid, untuk memantau setiap ucapan dan tindakan manusia yang jumlahnya milyaran itu? Bahan, alat dan metoda apa yang digunakan? Entahlah.

Namun dengan melihat tingkat kehebatan dan laju kemajuan teknologi informasi serta teknologi penginderaan optik dan elektronik sejak setengah abad terakhir, kiranya kemusykilan tugas pemantauan tersebut agak mudah untuk diterima oleh akal manusia.

Saat ini, di atas lapisan atmosfir Bumi, yang dipicu oleh peluncuran Sputnik 1 oleh Uni Sovyet pada tanggal 4 Oktober 1957, sedang berseliweran ratusan satelit-satelit buatan semacam yang salahsatu fungsinya adalah melakukan pengintaian tajam terhadap pergerakan atau perubahan yang berlangsung di permukaan Bumi. Didukung oleh jaringan intelijen di daratan, nyaris tidak ada lagi hal yang dapat disembunyikan oleh suatu negara menyangkut pergerakan ekonomi dan pertahanan-kemanan mereka terhadap beberapa negara ‘big brothers’ pemilik satelit mata-mata tersebut.

Sementara itu, jutaan organisasi ‘little brothers’ dalam berbagai bentuk dan skala juga melakukan kegiatan pengintaian dan pengumpulan informasi terhadap kelompok manusia yang menjadi sasaran kepentingan masing-masing organisasi. Berbagai kamera pengintai yang dipasang di gedung-gedung umum, di sudut dan persimpangan jalan, di kendaraan umum dan stasiun-stasiun secara teratur merekam pergerakan manusia yang menggunakan fasilitas tersebut. Di Inggris saja, sejak kejadian pemboman di London tiga tahun lalu, kini telah dipasang sebanyak 4,2 juta kamera CCTV yang tersebar di berbagai sudut negeri. Artinya, tersedia satu kamera untuk setiap 14 orang penduduk. Di Cina, di kota Shenzhen yang berpenduduk 12 juta, dalam dua tahun kedepan akan telah terpasang 2 juta kamera (satu kamera per enam penduduk), yang kesemuanya memiliki teknologi pengenalan wajah secara biometrik. Digabungkan dengan teknologi pengenalan suara secara digital, penyadapan telepon dan KTP yang berisi ‘chip’ komputer, maka akan dihasilkan kemampuan untuk melacak pergerakan setiap orang, apa-apa saja yang dibelinya, percakapan telepon yang dilakukan, situs-stus internet yang pernah dikunjungi atau acara-acara tivi yang ditonton. Informasi tersebut utamanya dirancang untuk dapat mencium secara dini upaya-upaya makar jauh sebelum ia berubah menjadi pergerakan massal. Sementara di Queensland sendiri, hanya untuk stasiun dan areal parkir kereta apinya saja telah terpasang 3500 kamera CCTV, ditambah 2500 kamera yang dipasang di dalam kereta api. Ipswich, satu kota kecil yang terletak di barat daya Brisbane, memiliki 160 kamera dan diklaim telah mampu menurunkan tingkat kejahatan sebesar 78 persen.

Ditambah dengan rekam jejak yang dihasilkan dari penggunaan kartu akses elektronik, kartu uang elektronik, kartu setia-belanja dan terbang elektronik, kartu anggota program pinjam-sewa, penggunaan telefon genggam serta penggunaan program pelacakan komputer maka informasi yang terkumpulkan akan dapat menjadi catatan elektronik setiap ucapan dan tindakan dari siapapun penggunanya. Pasporpun kini mulai disisipi dengan komponen elektronis yang tidak saja mencatat jati diri pemiliknya namun juga rincian dari perjalanan lintas negara yang pernah dilakukannya. Dan banyak lagi teknologi semacam yang kini sedang dikembangkan, yang ditujukan kepada upaya untuk dapat mengetahui keberadaan serta pergerakan manusia selama 24 jam dalam sehari serta selama tujuh hari dalam seminggu.

Sebagai penganut agama Islam yang memang selalu diingatkan bahwa Dia akan selalu berada lebih dekat dari urat nadi leher seseorang dan akan selalu memantau setiap gerakan ummatNya tentu tidak perlu risau dengan kenyataan di atas, yaitu bahwa semakin lama akan semakin lenyap pulalah ‘privacy’ manusia sebagai anggota masyarakat sejalan dengan kemajuan teknologi yang diciptakan. Namun kiranya tersisa satu pertanyaan yang cukup mengusik: Bagaimana kiranya dapat dicegah agar nantinya tidak akan ada sebagian manusia penguasa informasi yang bertindak sebagai Tuhan atas sebagian manusia lainnya?

Wassalam,
HaBe

Share
 

Sholat Khusyu’ II

Assalamu’alaikum WW,

Untuk dapat khusu’ menghadap Tuhan ketika solat tentulah mudah dilakukan bila wujud Tuhan itu nyata, sebagaimana ketika seorang rakyat jelata mendapat kesempatan untuk bertutur-kata langsung dengan seorang Kepala Negara yang dihormatinya. Namun, karena wujud Tuhan itu diluar kemampuan lima indera manusia untuk menangkapnya, maka satu-satunya jalan untuk dapat khusu’ (khidmat) adalah dengan meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada; bagaikan satu kamera intai tersembunyi yang selalu mengikuti gerak-gerik diri.

Ada dua cara yang umum ditempuh selama ini untuk mencapai keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Cara pertama adalah dengan selalu mengamati tanda-tanda keberadaan Tuhan di alam semesta ini. Setiap ‘penemuan’ atas tanda-tanda tersebut kiranya akan menambah keyakinan seseorang akan keberadaan Tuhan. Cara ini dapat disebut sebagai metoda keilmuan, yang dapat membawa pengikutnya kedalam tingkatan keyakinan mulai dari 0% hingga mungkin 100 persen. Kelemahan metoda ini adalah bahwa tidak semua orang punya cukup ilmu dan waktu untuk bisa mencapai tingkatan tertinggi "Haq-ul-Yaqin". Cara kedua adalah dengan sepenuhnya menerima didalam hati tentang adanya Tuhan sebagaimana yang dirisalahkan oleh orangtua, guru dan ulama yang dihormati dan dipercayainya. Cara yang terkesan bersifat indoktrinasi ini mungkin dapat langsung membawa pengikutnya ke tingkat 100% percaya, namun bisa jadi tingkatannya kemudian menurun hingga ke titik nol persen akibat kecenderungan untuk mengasingkan akal dari kegiatan spiritual. Kedua metoda di atas ternyata memiliki kelemahan sehingga dapat menjadikan pengikutnya masuk kedalam kelas peragu, yang kiranya tercermin dari solatnya yang tidak khusu’, amal-jariyahnya yang bersifat ‘riya’ (showing-off), serta berbagai tindakan munafik lainnya. Karena bagi mereka yang sudah 100% percaya Tuhan, semestinyalah tidak akan mempunyai lagi celah waktu, tempat dan keadaan untuk berbuat sesuatu yang melanggar harkatnya sebagai Wakil Tuhan di muka bumi ini (Khalifah-Fil-Ardh).

Ditengah keraguan, pertanyaan, tentang bagaimana caranya agar kita bisa percaya sepenuhnya kepada Tuhan, sehingga mampu melakukan solat secara khusu’, maka Ustadz Abu Sangkan (UAS) didalam pelatihan solat khusu’nya baru-baru ini di Brisbane mengingatkan kita semua bahwa ruh manusia itu adalah sesuatu yang terpisah dari badan dan diberikan langsung oleh Tuhan. Manusia menjadi sangat penting kedudukannya karena seakan ruhnya adalah bagian dari Tuhan. Ucapan ‘bismiLlah’, yang artinya ‘dengan nama Allah’ menunjukkan posisi manusia seakan sejajar, mewakili langsung Allah di muka bumi ini. Manusia adalah duta besar Tuhan di muka bumi ini yang ditugaskan untuk membawa kebaikan. UAS kiranya berhasil meyakinkan dirinya sendiri dan sebagian kita bahwa ruh itu adalah sesuatu yang terpisah dari ‘wadag’ manusia. Bila tidak, mengapa pula seseorang dapat menyebut bahwa telapak tangannya adalah milik dia walau sudah lepas terpisah dari lengannya akibat suatu kecelakaan? Bukankah ‘dia’ itu adalah ruh yang berada di dalam namun terpisah dari tubuhnya? Kita dibawa untuk meyakinkan diri bahwa selain ilmu dan indera, maka ada pula Tuhan sebagai sumber informasi.. Tuhan menjadi satu faktor ‘nyata’ dalam kehidupan sehari-hari, seolah menjadi seorang dan satu-satunya ‘Kepala Negara’ tempat kita, hambanya, mengadu, melapor diri, meminta dengan kepasrahan yang bulat dan sepenuhnya. Saat solat, Tuhan menjadi tempat sandaran bagi manusia setelah sempat menjalankan tugas yang diembannya, meminta petunjukNya, bahkan siap untuk dipanggil kembali keharibanNya. Selanjutnya berbagai analisis fisiologi dan psikologi manusia yang dikemukakan oleh UAS berhasil menunjukkan manfaat luarbiasa solat khusu’ atas kesehatan fisik dan ketangguhan jiwa yang ditimbulkannya, yang jauh melebihi teknik-teknik meditasi atau sembahyang lainnya.

Agaknya UAS menggunakan metoda kombinasi: indoktrinasi dan keilmuan. Pertanyaannya adalah: apa yang ‘mengilhami’ beliau untuk mengembangkan metoda solat khusu’ tersebut? Diakui beliau kemudian bahwa kesemuanya itu dimulai pada tahun 1994, saat ia dengan ‘beraninya’ bermonolog dengan Tuhan menanyakan apakah ia akan memenangkan suatu ‘tender pekerjaan’ yang diikutinya atau tidak? Setelah dua kali berturut-turut ban motornya kempes ketika akan pergi ke tempat pelelangan pekerjaan tersebut, ia akhirnya diyakinkan bahwa Tuhan telah menjawab langsung pertanyaannya. Sejak itu ia yakin Tuhan itu ada. Ia tidak pernah lagi menengok kemana-mana.

Dapatkah kita mempercayai sepenuhnya apa yang diyakini Ustadz tersebut? atau perlukah kita menunggu terlebih dahulu munculnya ‘tanda-tanda’ keberadaan Tuhan secara pribadi kepada diri masing-masing sebelum kita dapat mempraktekkan solat yang khusu’? Atau memang kita sudah yakin dengan keberdaan Tuhan, … namun kenapa koq masih kerap tidak khusu’ solatnya?

Wassalam,

HaBe

Share
 
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »