Monday, May 21, 2012
 

Ngayogyakartan

Assalamu’alaikum WW,

Di awal tahun 1990-an,saya ditugaskan Deptan untuk mengorganisir satu seminar nasional bertajuk bioteknologi. Nah, ketika saya mengajukan nama-nama para pakar bioteknologi yang akan diundang, atasan saya meminta agar pakar dari UGM juga diundang, selain yang dari IPB, ITB dan UI. Satu alasan yang menarik yang disampaikan atasan saya tersebut adalah bahwa UGM dikenal sebagai institusi pendidikan yang berorientasi kerakyatan (people-oriented, labour intensive), sementara IPB lebih terfokus kepada upaya pengembangan dan pemanfaatan teknologi (technology-oriented, capital intensive).

Pengamatan atasan saya tersebut ada benarnya, karena sebelumnya, pada pertengahan tahun 1980-an, saat Deptan akan meluncurkan program nasional upaya swasembada kedelai, maka tanggapan dari IPB adalah dengan menganjurkan penggunaan kapur pertanian di lahan-lahan masam, sementara UGM bersikeras untuk menggunakan varietas-vaerietas kedelai yang tahan tanah masam. Pada akhirnya, yang menang adalah usulan IPB, karena peningkatan produksinya bisa segera dicapai, sementara usulan UGM akan memakan waktu yang lebih lama untuk diterapkan mengingat panjangnya waktu yang diperlukan untuk dapat melakukan seleksi terhadap varietas-varietas yang dimaksud.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Program tersebut boleh dikatakan gagal total, karena ternyata swasta dan pemerintah tidak mampu memproduksi dan mendistribusikan kapur pertanian dengan baik dan benar ke pelosok-pelosok daerah yang membutuhkannya. Belum lagi ternyata dampak positif kapur tersebut hanya bertahan 2-4 tahun. Setelah itu, tanah kembali masam dan kedelai tidak akan mampu lagi tumbuh di atasnya. Bayangkan, bila usulan UGM yang diterima? tentunya kini, dua setengah dekade kemudian, Indonesia sudah memiliki banyak varietas kedelai tahan masam dan kedelai sudah tidak perlu di impor lagi?

Kembali ke seminar nasional bioteknologi yang saya organisir, kekaguman saya atas UGM semakin bertambah, ketika pakar yang saya undang, DR. Hari Hartiko, ternyata adalah pakar pintar yang ramah dan bersahaja, tipikal orang Yogyakarta. Beliau, misalnya, mau mendatangi langsung panitia di ruang sekretariat dan mengetik dan memfotokopi sendiri bahan-bahan yang diperlukannya. Pakar lainnya memang tidak kalah ramahnya, namun sulit saya pastikan penyebabnya, karena umumnya saya sudah kenal dengan mereka sebelumnya, dan bahkan satu diantaranya adalah mantan Ketua PPIA-QLD (Dr. Endang Sukara) yang menjemput saya di bandara dan mencarikan akomodasi di BNE

Kita juga kenal Prof. Amien Rais, yang juga pernah mengunjungi UQ. Beliaupun adalah seorang pakar dan pemimpin nasional yang berani dan bersahaja serta rajin berpuasa Senin-Kamis. Ini menambah kekaguman saya atas UGM pada khususnya dan Yogayakarta pada khususnya.

Besok lusa, warga [iisb] di BNE akan kedatangan satu tokoh nasional lainnya yang juga berasal dari Yogyakarta, yaitu Prof Ichlasul Amal, mantan Rektor UGM dan alumni ANU (1984). Beliau tidak saja dikenal berani dan bersahaja namun juga konsisten (teguh) pendirian politiknya. Berapa orang di Indonesia yang kita kenal mampu menolak tawaran dua orang Presiden RI untuk bersedia diangkat menjadi Menteri? Saya sendiri belum pernah mendengar cerita semacam terjadi pada orang lain.

Sungguh menarik untuk mengetahui alasan mengapa Prof Ichlasul Amal menempuh perjalanan hidup seperti yang ia jalani selama ini. Apa maksud penolakan tawaran tersebut di atas? Apa yang dinginkannya dari kehidupan ini? Apa harapannya atas generasi muda seperti kita-kita ini? Apa do’anya terhadap bangsa Indonesia?

Mari kita simak dan nikmati kehadiran beliau nanti.

Terimakasih Yogyakarta, karena telah berhasil mencetak anak-anak bangsa yang bersahaja dan berhati luhur.

Wassalam,

HaBe

Catatan: Konsul Jenderal RI di Sydney, Bp. Sudaryomo Hartosudarmo dan mungkin juga Dubes RI untuk Australia & Vanuatu, Bp. Primo Alui Joelianto, kalau tidak salah juga alumni Fisipol UGM. Benarkah?

Share
 

Comments

No comments so far.
  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     

     
     
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »