Konflik
Assalamu’alaikum WW,
Kata ‘konflik’ selalu dikonotasikan negatif oleh orang yang mendengar atau membacanya. Segera terbayang semacam bentuk perseteruan, perkelahian, pertempuran, perebutan antar fihak yang terlibat. Bayangan buruk yang sama juga ditimbulkan oleh penggunaan kata ‘gerombolan’.
Oleh karenanya menjadi menarik tawaran yang disampaikan sahabat Ivan untuk memandang suatu konflik sebagai ‘sunatuLlah’, ketetapan Allah (PJM, 6 Maret 2009). Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang menciptakan rasa permusuhan di antara manusia?
Ternyata bukan itu yang dimaksudkan Ivan. Bukan Tuhan yang menciptakan konflik, namun memang Tuhanlah yang menciptakan potensi konflik sejak manusia diciptakan lengkap dengan kemampuan berfikir dan kebebasan memilihnya. Konflik pertama yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan adalah ketika Nabi Hawa AS sempat bertengkar dengan Nabi Adam AS tentang apakah akan mengikuti atau tidak hasutan syaitan untuk memakan buah khuldi, yang berakhir dengan dicampakkannya kedua cikal bakal ummat manusia itu ke dunia yang fana.. Kejadian tersebut diikuti oleh konflik berdarah pertama di muka bumi, ketika kedua putra Adam dan Hawa, Qobil dan Habil berkelahi memperebutkan salah seorang adik perempuan mereka untuk dijadikan isteri.
Sesungguhnya, upaya untuk memahami kenapa konflik bisa terjadi diantara manusia adalah sejalan dengan upaya untuk memahami mengapa manusia dan alam semesta diciptakanNya. Tuhan kiranya telah menciptakan perbedaan sejak awal: kekal versus fana, nikmat surga vs derita dunia, pria vs wanita, cantik vs buruk, siang vs malam, dan perbedaan-perbedaan ekstrim lainnya. Hukum-hukum alam yang telah kita ketahui selama ini juga menunjukkan bahwa pergerakan hanya terjadi bila ada perbedaan antar dua kutub, baik itu akibat perbedaan ketinggian, perbedaan tekanan udara, perbedaan tegangan listrik, dan seterusnya, yang kesemuanya adalah sunatuLlah. Dan kiranya konflik terjadi ketika manusia tidak mampu memahami dan memanfaatkan ‘hukum pergerakan alam’ tersebut. Manusia belum mampu mengharmonikan dirinya dengan segala pergerakan yang ditimbulkan oleh perbedaan-perbedaan fisik dan non-fisik yang berlaku atas alam semesta dan manusia.
Dengan kesadaran ‘baru’ ini, yaitu bahwa akan selalu ada ‘potensi konflik’ diantara manusia akibat sifat alam-semesta dan mahluk ciptaanNya yang memang selalu mengandung unsur-unsur yang berbeda takaran, kiranya akan menjadikan kita lebih arif didalam menyikapi suatu konflik. Kesadaran tersebut akan mampu membawa fihak yang terlibat serta para penengahnya (fasilitator, negosiator, mediator maupun arbitrator) untuk mendapatkan akar penyebab konflik yang sebenarnya serta cara-cara penyelesaian yang lebih ‘sustainable’.
Dengan kesadaran tersebut, kini kita bisa memahami mengapa Ivan berpendapat bahwa ‘konflik adalah suatu keniscayaan yang selalu membersamai kehidupan setiap anak-cucu Adam sepanjang masa’.
Wassalam,
HaBe
Comments