Mukjizat
Assalamu’alaikum WW,
Bila memang takdir itu dapat diartikan sebagai ‘segala sifat, hukum, aturan abadi yang telah ditetapkan Allah SWT atas segala materi yang ada di alam semesta ini’, maka penggunaan kata takdir dalam kehidupan sehari-hari dapat dipandang sebagai kebelum-mampuan manusia untuk memahami suatu kejadian ‘diluar-dugaan’ yang terjadi atau dialaminya.
Takdir bukanlah ketentuan khusus atau pengecualian yang diberlakukan Allah sejak awal atas sesuatu atau seseorang yang sifatnya bertentangan dengan ketentuan Allah yang umum berlaku. Dengan demikian, masuk surga atau nerakanya seseorang tidaklah ditetapkan Allah sejak ia ada dalam kandungan.
Di lain fihak, bagaimana pandangan kita terhadap kata mukjizat? Apakah ia juga adalah penyimpangan aturan/hukum alam yang ditunjukkan Allah SWT kemudian? Ataukah mukjizat sebenarnya hanyalah juga aturan, hukum Allah yang belum mampu kita fahami?
Wassalam,
HaBe
LAMPIRAN:
Perkenankan saya menyampaikan bagian kedua dari tulisan yang berjudul: "Pengertian Takdir – Mukjizat – Ilmu Pengetahuan Dalam Islam," yang pernah saya ketengahkan dalam sidang mulia PJM-IISB pada tanggal 28 April 2000.
B. Mukjizat
Dapat dimengerti bila pada masa kenabian dahulu, nabi dan rasul diberi kemampuan untuk mempertunjukkan mukjizat dari Allah SWT. Keterbatasan daya nalar manusia jaman itu menuntut hal semacam, sebagai pembuktian legitimasi kenabian atau kerasulan yang bersangkutan.
Namun pasca RasuluLlah SAW, pantaskah manusia mengharapkan mukjizat semacam, untuk meyakinkan diri bahwa memang Allah itu ada, agama itu perlu? Bahwa Islam itu adalah pilihan terbaik? bahwa segala pengorbanan dan penderitaan sebagai penganut Islam selama ini memang akan berbuah surga kelak di kemudian hari? Bahwa mereka yang nampak senang di dunia saat ini kelak akan diazab karena telah berani menentang anjuran Allah SWT untuk beriman hanya kepadaNya?
Seribu empat ratus tahun yang lalu, RasuluLlah ketika didesak oleh kaum skeptik Mekah untuk membuktikan kerasulannya melalui penampakan mukjizat, dengan rendah hati menjawab:"Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata" (QS Al-Ankabuut [29]:50). Jelas RasuluLlah tidak mengandalkan mukjizat sebagai cara meyakinkan ummatNya akan kebenaran Al-Qur’an yang dibawanya. Bukan taklid buta yang diinginkan Allah dari ummat manusia. Bilapun itu yang dikehendakiNya, tentu dengan mudah saja semua manusia itu diubah menjadi semacam malaikat.
Kata mukjizat, yang dapat didefinisikan sebagai ‘suatu kejadian yang nampaknya melawan hukum alam’, atau ‘suatu perbuatan diluar kemampuan manusia, suatu kemusykilan’, sesungguhnya dalam Al-Qur’an sendiri tidak disebutkan dengan kata Arab ‘mu’jazah’ (mukjizat). Kata yang digunakan adalah ‘aayaah’ yang berarti ‘tanda-tanda’: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" (QS Ar Ruum [30]:21).
Pasca RasuluLlah, manusia diminta untuk mampu membaca tanda-tanda alam dan kehidupan (takdir) yang dibuatNya untuk setiap materi yang ada di alam semesta ini. Dengan kemampuan berfikir, naluri serta nafsu yang dimikinya, dituntun oleh Kitab Paripurna Al-Qur’an, diharapkan manusia dapat menciptakan mukjizatnya sendiri, yang dapat mencairkan kesombongannya sebagai makhluk tercerdas di muka bumi, untuk kemudian bertekuk lutut mengakui keberadaanNya, mengakui kekuasaanNya, mengakui kasih-sayangNya.
Duh, mengapa pula begitu butanya manusia ini? Mengapa pula menunggu-nunggu mukjizat semacam yang ditunjukkan oleh para nabi dan rasul? Mengapa pula menunggu-nunggu imam terakhir? Tidakkah Al-Qur’an itu sendiri sudah merupakan mukjizat nyata dari Allah SWT?
Diturunkannya Al-Qur’an melalui seorang Muhammad yang sebelumnya tidak dapat baca-tulis, yang tidak pernah bersekolah, bukankah sudah suatu bukti bahwa Allah SWT-lah pengarang Al-Qur’an? Al-Qur’an itu sendiri penuh bukti akan kehebatan pengarangnya:"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya" (QS An-Nisaa’ [4]:82).
Tidak lagi akan diturunkan nabi atau rasul pembawa pesan, yang lazimnya pula diberi kemampuan untuk menunjukkan mukjizat dari Allah SWT. Yang tertinggal adalah Al-Qur’anul Karim, yang ia sendiri sesungguhnya suatu mukjizat yang dapat dinikmati ummat manusia setiap saat: "Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi mereka yang beriman" (QS Al-‘Ankaabut [29]:51).
Comments