Ilmu Pengetahuan
Assalamu’alaikum WW,
Takdir dan mukjizat adalah dua kata yang dimaknakan berbeda, namun pada hakekatnya bersumber pada satu hal yang sama, yaitu ketidakmampuan manusia untuk memahami hukum-hukum atau ketentuan-ketentuan yang diberlakukan Allah atas suatu kejadian yang diapandang sebagai takdir atau mukjizat.
Namun, dengan modal akal yang diberikan Allah SWT kepada manusia, kiranya Allah SWT memberi kesempatan kepada manusia untuk mencoba menguak ‘rahasia alam’ yang telah ditetapkanNya. Manusia ditantang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Wassalam,
HaBe
LAMPIRAN:
Perkenankan saya menyampaikan bagian ketiga (terakhir) dari tulisan yang berjudul: "Pengertian Takdir – Mukjizat – Ilmu Pengetahuan Dalam Islam," yang pernah saya ketengahkan dalam sidang mulia PJM-IISB pada tanggal 28 April 2000.
Takwa jangan selalu diartikan takut, seperti yang diartikan oleh orang-orang terdahulu (Hamka: Tafsir Al-Azhar). Yang bertakwa kepada Allah itu bukan seseorang yang hanya melakukan shaum disiang hari dan menegakkan ‘qiyamul lail’ serta rajin melaksanakan apa yang diharamkan oleh Allah dan melaksanakan apa yang diwajibkannya (Khalifah Umar bin Abdul Aziz).
Takwa tidak hanya berarti mampu menjalankan ibadah khusus (mahdloh). Ia adalah suatu kesadaran yang berlandaskan akal dan pengetahuan terhadap syariat Islam, sehingga seseorang mengharuskan dirinya mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram sebagai tolok ukur untuk seluruh aktivitasnya. Takwa membutuhkan pengetahuan tentang hukum/syariat Islam, guna mengetahui rambu-rambu syariat.
RasuluLlah SAW sendiri bersabda bahwa Allah tidak akan menerima keyakinan seseorang bila tidak diwujudkan dalam perbuatan, dan tidak akan menerima perbuatan seseorang bila tidak dilandasi keyakinan.
Dan keyakinan tulus akan keberadaan Allah SWT hanya bisa tumbuh melalui upaya manusia itu sendiri didalam mencari dan menemukan bukti-bukti atatu tanda-tanda kehadiranNya. Pengembangan ilmu dan pengetahuan merupakan satu jalan utama yang bisa membawa manusia kearah penemuan bukti-bukti tersebut.
Dalam kerangka penyiaran Islam, dakwah dalam kehidupan dewasa ini memerlukan persyaratan intelektual yang arif dan bijak, yang oleh Al-Qur’an disebut hikmah, yaitu suatu kemampuan untuk melakukan tindakan bijaksana dalam berbagai lapangan kehidupan.
Ahlul hikmah adalah orang yang memiliki kematangan jiwa berdasarkan pengetahuannya dan berupaya selalu menyempurnakan perilaku melalui tindakan yang terpuji. Karena pengetahuannyalah maka manusia lebih unggul daripada malaikat (QS Al Baqarah [2]:34). "Dan tidaklah sama orang yang berpengetahuan dengan yang tidak, karena mereka yang tidak mengamati dan tidak mengerti adalah orang-orang yang lebih jelek dari binatang" (QS Al-A’raf [7]:179).
Ilmu dan pengetahuan adalah jalan utama menuju kesejahteraan ummat manusia di dunia dan akhirat. Pengembangannya akan mampu menguak banyak takdir yang diciptakan Allah SWT; akan mampu menciptakan mukjizat-mukjizat yang bisa meyakinkan manusia akan kehadiranNya.
Ilmu-pengetahuan itu adalah landasan perilaku dan amal saleh, agar seluruh gerak ibadah yang dikerjakan sampai ke tujuan (Syamsul Hadi Thubany, Republika-6 April 1999). Ia akan menghasilkan generasi Rabbani, yaitu kelompok yang tidak bosan-bosannya melakukan eksplorasi serta eksperimentasi ilmiah (jihad intelektual).
Patutlah direnungkan pesan Presiden Abdurrahman Wahid berikut ini, yang dikutip dari sambutan pembukaannya di depan peserta Olimpiade Fisika Asia I di Tangerang pada Senin 24 April 2000 lalu. Beliau mengatakan bahwa:"Lewat penguasaan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, manusia harus memikirkan bagaimana dirinya mengembangkan alam dan bagaimana alam mengembangkan manusia, karena pada dasarnya kita semua hanya pelayan Tuhan".
Comments