Gus Dur
Assalamu’alaikum WW,
Dari lima indera yang manusia miliki: penglihatan, pendengaran, penciuman, pencitarasaan dan perabaan, manakah yang paling penting? Mata, bukan? Artinya, bila kita dihadapkan kepada pilihan untuk kehilangan kemampuan mata untuk melihat atau kehilangan kemampuan indera lainnya, maka dapat dipastikan kita akan memilih untuk mempertahankan keberadaan mata beserta fungsi melihatnya.
Sulit membayangkan untuk bisa bertahan hidup, apalagi untuk hidup nyaman bila kita tunanetra. Olehkarenanya adalah sesuatu yang sangat mengagumkan, bila seorang tunanetra seperti Gus Dur bisa menjadi seorang ulama khos (mumpuni) tidak saja di tingkat nasional namun juga di tingkat internasional. Bahkan, beliau sempat diberi kepercayaan untuk menjadi Presiden RI yang ke-4 (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001). Artinya, beliau telah berhasil berfungsi sekaligus sebagai ulama’ dan juga umaro.’
Kekaguman akan kemampuan Gus Dur tersebut terlihat nyata dari semangat menyapa dan bertanya para ‘pendul’ (penduduk luarnegeri) yang hadir dalam acara ramah-tamah dengan Gus Dur pada hari Kamis minggu lalu di University of Queensland, Brisbane. Ditambah dengan sikap serius tapi santai yang selama ini menjadi gaya khas Gus Dur, telah menjadikan suasana tanya-jawab berlangsung ringan dan tidak kaku. Tidak sekalipun Gus Dur berusaha menunjukkan bahwa ia mengalami kesulitan di dalam berkomunikasi akibat kondisi buruk penglihatannya. Walaupun sebenarnya Gus Dur juga sudah menjadi pelanggan tetap alat cuci darah, sebagai akibat dari ketidakmampuan ginjal beliau untuk melakukan fungsi normalnya.
Kondisi badan yang mudah lelah dan ketidakmampuan untuk melihat tidak menjadikan beliau kehilangan ketajaman analisis dan daya ingatnya yang luarbiasa. Selama diskusi, terasa bahwa beliau adalah seorang nasionalis sejati, yang lebih menginginkan kesatuan bangsa. Bahkan, terasa bahwa beliau adalah sebenarnya seorang universalis, seorang Islamis sejati, yang menginginkan perdamaian dunia dicapai melalui saling pengertian dan tenggang-rasa antar ummat pemeluk berbagai agama, bukannya melalui fanatisme sempit atau klaim sepihak sebagai ummat yang paling diridho’iNya. Satu sikap yang menjadikan beliau lebih diterima sebagai tokoh nasional oleh kelompok SARA minoritas di Indonesia.
Kemampuan, keteguhan dan ketegaran Gus Dur didalam berkehidupan, kiranya patut menjadi teladan bagi kita semua yang secara fisik jauh lebih sehat. Kekurangan fisik atau lainnya yang mungkin ada dalam diri kita masing-masing kiranya tidak menjadi penghalang berarti bagi kita untuk menjadi salah satu manusia yang berguna tidak saja bagi diri sendiri namun juga bagi alam semesta beserta segala isinya.
Wassalam,
HaBe
Comments