Takdir
Assalamu’alaikum WW,
Perkenankan saya menyampaikan bagian pertama dari tulisan yang berjudul: "Pengertian Takdir – Mukjizat – Ilmu Pengetahuan Dalam Islam," yang pernah saya ketengahkan dalam sidang mulia PJM-IISB pada tanggal 28 April 2000.
Di dalam Islam, takdir haruslah didefinisikan sebagai ‘segala ketetapan abadi Allah atas seluruh benda dan mahluk ciptaannya.’ Sejak awal penciptaan alam semesta ini, Allah telah menetapkan takdirnya atas segala materi yang ada didalamnya. Setiap materi tak bernyawa telah ditetapkan sifat-sifat dasarnya. Telah pula ditetapkan hukum-hukum fisika dan non-fisika yang mengatur hubungan antar materi tersebut. Hal yang sama berlaku pula untuk makhluk yang bernyawa. Segala sesuatunya telah diberiNya perlengkapan-perlengkapan berupa sifat, naluri dan fungsi.
Hanya dengan pengertian takdir semacam itulah maka keberadaan takdir dapat diterima oleh akal manusia dan tidak bertentangan dengan prinsip kebebasan memilih (free will) yang dimiliki manusia didalam menajalankan kehidupannya di dunia.
Dengan demikian ‘percaya kepada ketentuan baik dan buruk’ harus dipandang sebagai keyakinan manusia akan adanya aturan dan hukum dari Allah atas segala sesuatunya di dunia ini, yang bisa menghasilkan kebaikan maupun keburukan bagi kepentingan manusia itu sendiri.
Jangan lagi takdir disikapi sebagai suatu ketentuan Allah yang ditimpakan begitu saja kepada seseorang ataupun sekelompok orang tanpa sebab-musabab. Betapa seringnya manusia menyebut kata takdir atas suatu musibah yang dialaminya. Misalnya saja didalam hal kematian: dapatkah kita katakan memang sudah waktunya seseorang itu meninggal setelah, misalnya, mengalami satu kecelakaan lalulintas? betulkah ia sudah ditakdirkan untuk berumur pendek? betulkah semua manusia sudah ditetapkan batas umurnya? cara meninggalnya? bila memang benar begitu, tentu tiada gunalah manusia berupaya dalam kehidupannya. Mengapa pula manusia berobat ketika sakit? Mengapa pula perlu berhati-hati saat menyeberangi jalan yang ramai dengan kendaraan? Apakah kematian beribu-ribu manusia di Zimbabwe dan Ethiopia saat ini merupakan takdir semacam dari Allah?
Yang benar adalah bahwa Allah telah menetapkan sifat-sifat dasar, termasuk umur potensial atau umur biologis dari setiap mahluk hidup serta telah pula ditetapkan hukum-hukum alam yang mengatur hubungan sesama sel serta hubungan antara sel dengan lingkungannya. Setiap hal yang mengganggu terpeliharanya sifat-sifat dasar sel tersebut akan membawa dampak negatif, yang pada akhirnya mengarah kepada pengurangan umur biologisnya. Polusi udara, gaya hidup yang tidak sehat atau terkontaminasi logam berat bisa menyebabkan umur fisiologis (umur nyata) sel-sel tersebut lebih pendek dari umur biologisnya (umur potensialnya). Itulah takdir Allah, bahwa sel-sel tubuh mahluk hidup ditakdirkan untuk memiliki sifat dasar dan hubungan yang demikian.
Di dalam QS An Nisaa’ [4]:136 takdir tidak tercantum sebagai salah satu rukun iman. Hanya RasuluLlah menyebutkannya ketika ditanya tentang konsep keimanan, namun tidak diklasifikasikannya sebagai rukun. Takdir atau ‘qadr’ arti harfiahnya adalah kadar, ukuran atau batas: " … dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (QS Al Furqaan [25]: 2). Di dalam QS Al Hijr [15]: 21 ketentuan ini diulangi lagi: "Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahNya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."
Manusiapun mempunyai takdir sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan atas segala sel tubuhnya, kombinasi mana menyebabkan manusia itu memiliki kemampuan yang berbeda dengan burung, misalnya.
Dengan ukuran atau takdir masing-masing, setiap makhluk hidup di dunia ini menjalankan kehidupannya, berinteraksi dengan sesama makhluk hidup dan dengan alam semesta. Disinilah muncul pengertian takdir baik atau buruk dari sisi kepentingan kemanusiaan. Allah SWT kemudian menurunkan petunjuk-petunjuk kepada manusia agar manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, serta konsekuensi apa yang akan diperolehnya terhadap setiap pilihan yang dibuat: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (QS An Nisaa’ [4]: 79).
Wassalam,
HaBe
Comments