Cuek Bebek
Assalamu’alaikum WW,
Mungkin istilah ‘cuek bebek’ bisa diterjemahkan menjadi ‘total ignorance’, yang kiranya layak disampirkan kepada para fihak yang terkait dengan dunia perhubungan di Indonesia, khususnya di sub-sektor pelayaran rakyat.
Bayangkan, jelas-jelas BMG sudah memberi peringatan tentang tidak bersahabatnya cuaca bagi kegiatan pelayaran selama periode Desember-Februari, yang ditandai oleh tingginya gelombang laut (ombak), tingginya kecepatan angin, banyaknya angin putting beliung, terjadinya rob atau gelombang pasang tinggi (‘king tides’) di banyak pantai, namun kenapa masih saja sempat terjadi satu kecelakaan laut yang memakan begitu banyak korban?
Di hari Minggu, 11 Januari lalu, KM Teratai Prima yang tercatat mengangkut sekitar 250 penumpang dinyatakan tenggelam dan hilang di Perairan Majene, Sulawesi Barat. Apakah arti informasi dan peringatan cuaca itu bagi para pelaut (nakhoda), pengusaha (pemilik kapal), dan bagi para penguasa (syahbandar, dirjen perla dan menhub)?
Pula, itu bukanlah kecelakaan atau kelalaian yang pertama kali. Pada 28 Desember 2006, dua kapal feri tenggelam dengan ratusan penumpang didalamnya: KM Tristra I di Selat Bangka dan KM Senapati Nusantara di perairan sebelah utara Jepara. Disusul dengan tenggelamnya hampir seratus penumpang didalam KM KM Citra Mandala Bahari pada 1 Februari 2006 di Selat Rote. Statistik ini belumlah memasukkan kecelakaan yang dialami oleh beberapa kapal layar motor pengangkut barang yang juga tidak sedikit membawa penumpang (gelap?) didalamnya.
Kenapa KM Teratai Prima diijinkan berlayar oleh syahbandar? Bisakah ia mengalihkan tanggungjawabnya kepada nakhoda? Dimana tanggungjawab dirjen perla dan menteri perhubungan yang semestinya melakukan tugas pengawasan dan pengendalian untuk memastikan terpenuhinya persyaratan keselamatan pelayaran?
Ini sungguh satu renungan penting bagi para calon pemimpin atau kepala pemerintahan di Indonesia, bahwa dibalik kemudahan dan kenikmatan yang diperoleh sebagai pejabat negara, terdapat beban tugas dan pertanggungjawaban yang besar.
Perkenankan saya melampirkan kembali dua RHJ yang pernah disampaikan dua tahun yang lalu di milis ini, yang intinya mengandung pesan renungan yang sama.
Wassalam,
HaBe
LAMPIRAN:
RHJ: Sejarah yang berulang (Jan 4, 2007)
Assalamu’alaikum WW,
Ada yang tidak setuju dengan ungkapan ‘history may repeat itself’?, karena mana mungkin ada dua kejadian yang persis sama terjadi pada dua kurun waktu yang berbeda?
Namun agaknya ungkapan tersebut berlaku untuk Indonesia. Berulangnya kecelakaan pesawat terbang dan tenggelamnya kapal laut, ditambah lagi respons yang lamban serta koordinasi dan komunikasi yang buruk diantara fihak yang berwenang dan berkepentingan didalam menanggapi dan menanggulanginya, adalah fakta yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Kapan kita mau belajar dari sejarah? Certainly the history might just repeat itself, if we never wanted to learn from it!
Wass.,
HaBe
[Agaknya Desember selalu kelabu bagi Indonesia: bom Natal 2000, tsunami Aceh 2004 dan kecelakaan angkutan udara dan laut 2006. Ada yang tahu musibah apa di Des. 2002? Atau ada yang bisa meramal musibah apa lagi yang akan terjadi di Des. 2008?].
RHJ: Manifestasi cinta yang terdalam (Jan 4, 2007)
Assalamu’alaikum WW,
Cukilan kisah nyata tentang seorang penumpang yang selamat dari musibah tenggelamnya feri Senapati Nusantara di lepas pantai utara Jawa hari Jum’at lalu kiranya dapat digunakan untuk menggambarkan tentang manifestasi cinta yang terdalam:
Nadi, yang tidak pandai berenang, berhasil mendapatkan satu jaket pelampung dan akhirnya berhasil keluar dari feri yang sedang tenggelam itu. Semalaman ia terapung. Di pagi berikutnya ia melihat sepasang suami isteri dengan seorang anak balita. Tubuh si anak penuh berselimut luka. "Mereka meminta saya untuk menyelamatkan anak mereka, dan saya berjanji akan menyelamatkannya. Kemudian mereka meninggal dan jasad mereka hanyut menjauh," Nadi bercerita lebih lanjut.
Nadi kemudian menempatkan si anak balita di lehernya dan meminta ia untuk berpegangan di rambutnya. Namun semakin lama terasa cengkeraman anak tersebut semakin melemah. Ia ternyata juga telah wafat menyusul arwah kedua orangtuanya.
Wassalam,
HaBe
Comments