Zikir – Fikir
Assalamu’alaikum WW,
Dengan gamblang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Hadist bahwa orang yang luas ilmunya (‘alim") relatif jauh lebih bernilai dibandingkan dengan orang yang semata taat ibadahnya (‘abid’), seakan memperbandingkan antara sorotan penuh sinar Bulan purnama dengan kelipan lemah cahaya sebuah bintang di langit.
Perbandingan tersebut disampaikan untuk menekankan betapa pentingnya manusia untuk menggunakan kemampuan berfikir (akal) yang dimilikinya, melebihi sekedar kepatuhan (taklid) buta tanpa kesadaran akal kepada Sang Pencipta.
KH Dr. Nadirsyah Hosen, dalam tausyiah yang disampaikannya secara segar pada pengajian bulanan iisb di akhir bulan November lalu, mengulang kembali ajakan Allah SWT untuk menggunakan akal dengan sebaik-baiknya, sebagaimana tersurat dan tersirat dalam QS Al-Baqarah:164 dan QS Al-Imron: 190-191.
Ajakan tersebut disampaikan juga didalam rangka mensyukuri keberhasilan beberapa anggota iisb menyelesaikan studi mereka di Brisbane. Sumbangan besar ulama-ulama Islam terkemuka terdahulu seperti Ibnu Sina, terhadap pengembangan ilmu pengetahuan modern, adalah contoh nyata betapa Islam mengajarkan manusia untuk memeras otak didalam menjalani kehidupan fananya di dunia.
Namun demikian, bukan berarti lalu manusia dianjurkan untuk terlebih dahulu, apalagi hanya, mengejar penguasaan ilmu. Gus Nadir mengajak kita semua untuk membarengkan, men-sinergi-kan, kekuatan zikir (mengingat Allah SWT) dan fikir untuk dapat menghasilkan muslim-muslim yang memenuhi kriteria ‘Ulil Albab’ (orang-orang yang berakal) sebagaimana tercantum dalam QS Al-Imron 190. Kemudian akan semakin purnalah bila kedua upaya tadi ditutup dengan do’a dan pujian kepada Sang Pencipta.
Dengan demikian, pada akhirnya adalah suatu kesia-siaan bila kita hanya memperdebatkan keunggulan antara zikir dan fikir, karena justru yang dituntut adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan keduanya untuk dapat menjadi ‘alimun’ yang ‘abidun’.
"Berzikir itu nikmat – Berfikir itu dahsyat", demikian satu ungkapan penutup yang disampaikan Ki Nadir dalam tausyiahnya kali ini. T
Terimakasih, Ki, atas perkenaannya untuk sejenak bercengkerama dengan kami di Brisbane. Dan selamat jalan bagi para sahabat yang segera akan kembali ke Indonesia.
Wassalam,
HaBe
Comments