Kesan Kami Naik Haji
Assalamu’alaikum WW,
QaalaLlahu ta’ala filqur’aniladziim: "Wa addzim finnaasi bil hajj – Ya’tuuka rijaalaa – Wa alaa kulli dhaamiri – Ya’tiinaa min kulli fajjin ‘amiiq "(QS Al Hajj/22:27).
Qaala Rasulullah SAW: "Afdhalul jihaadi hajju mabrur" (HR Al Bukhari).
Ada beberapa hal menarik yang patut kami sampaikan ke tengah sidang pengajian yang terhormat ini, menyangkut perjalanan haji yang kami lakukan beberapa waktu yang lalu.
Pertama, masalah ONH. Relatif cukup besar uang yang dihabiskan untuk tidak saja membayar ONH, namun juga untuk membiayai keberangkatan dua anak kami ke Indonesia serta juga biaya untuk membeli cenderamata dan keperluan lainnya. Belum lagi saat itu adalah masa ‘krismon’ dimana 1 AUD sempat mencapai nilai tukar limabelas ribu rupiah dan dimana-mana orang mencoba menjual mobil atau rumahnya dengan harga murah untuk bisa meredam dampak krisis keuangan regional itu. Namun, di akhir perjalanan kami, setelah kami kembali ke BNE, tiada perasaan lain yang bertengger di hati ini selain rasa puas, bangga dan bahagia. Rasulullah SAW toh mendo’akan: "Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti biaya-biayamu" (HR Adiinuuri).
Kedua, masalah cerita, mitos atau keyakinan bahwa "selama disana kita akan mengalami hal-hal yang merefleksikan tindak-tanduk kita selama ini, khususnya perilaku buruk yang merugikan sesama ummat". Misalnya, kita akan pernah ditendang orang bila pernah menendang orang sebelumnya di tanah air. Kesan saya, hal itu benar adanya bila kita berangkat dengan tanpa kesadaran penuh untuk menghindari setiap pemikiran, sikap dan tindakan buruk selama beribadah haji. Dalam keadaan penuh tekanan ("under pressure"), kita cenderung memperlihatkan watak asli masing-masing. Sebaliknya, bila kita berusaha sebaik-baiknya berbuat kebajikan, maka sangat mungkin kita akan diperlakukan pula oleh orang-orang di sekitar kita dengan penuh kasih-sayang dan kebaikan. Kita bisa menjadi ‘malaikat’ bagi sesama. Namun sebaliknya kita akan mendapat predikat ‘syaitan’ bila tidak mampu mengekang nafsu dan amarah kita.
Terlepas dari alasan rasional yang saya kemukakan di atas, memang saya akui ada beberapa kejadian yang belakangan kami anggap sebagai ‘berkah’ atau ‘karunia’ Allah SWT. Mulai dari lancarnya upaya kami untuk mencukupkan ONH, hingga terselesaikannya beberapa persoalan kecil lainnya (seperti visa untuk anak kami yang terlupa untuk di tempel atau dipindahkan di paspor baru mereka).
Ketiga, masalah haji yang mabrur. Ampunan dan surga adalah imbalan bagi yang mabruro haji-nya. Sunah Rasul yang saya kutipkan pada mukadimah di atas menyatakan bahwa jihad yang paling afdhol adalah haji yang mabrur. Pula Rasulullah SAW menegaskan: "Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga" (HR Bukhari dan Muslim).
Walaupun kemabruran haji seseorang itu menjadi rahasia Allah, namun kiranya ia dapat diupayakan dan ditingkatkan probabilitas perolehannya. Yaitu, dengan pertama memahami hakikat beribadah haji, lalu kemudian dengan penuh kesadaran dan kecintaan menjalankan segala upacara haji, dan akhirnya melaksanakan ibadah dan amal saleh dengan sebaik-baiknya, sebagai buah dari proses ‘pendidikan’ yang diperoleh selama beribadah haji.
Keempat, masalah ‘panggilan’ untuk berhaji. Jelas, sesuai ayat Al-Qur’an yang saya kutipkan dalam mukadimah di atas, Nabi IbrahimAS telah diperintahkan untuk menyeru ummatNya beribadah haji. Tinggal kita saja yang memastikan kapan saat awal diri kita tergolong mampu untuk melaksanakannya. Rasulullah SAW pernah berkata:"Seseorang hamba Aku sehatkan tubuhnya dan Aku perluas baginya mata pencahariannya dan berlalu lima tahun tidak berhaji kepada rumahKu, maka dia akan kehilangan (pemberianKu) (HR Al Baihaqi). Semoga kita bukan termasuk orang-orang dalam kategori tersebut.
Kelima, sungguh menarik melihat bagaimana suatu kota (seperti Madinah atau Mekah) berlangsung kehidupannya diantara waktu-waktu solat. Kapan kita bisa begitu? Dimana kita tidak lagi memandang waktu solat hanya sekedar penyela waktu kerja?
Terakhir, Nampak jelas Pemerintah Saudi Arabia berupaya keras melayani ummat Islam dengan sebaik-baiknya. Berbagai fasilitas terus dibangun. Untuk menghindari terulangnya tragedi kebakaran seperti musim haji tahun lalu, maka makana dan minuman kini disuplai dari satu dapur umum untuk masing-masing maktab. Fasilitas toilet di Padang Arafah dan Mina kini sudah sangat baik. Air berlimpah. Kebersihan sangat terjaga. Tahun 1999 depan, Insha Allah seluruh tenda di Mina sudah ber AC semua.
Banyak rasanya hal-hal kecil lainnya yang bisa kita petik sebagai kesan dari suatu perjalanan haji, yang tidak dapat saya sampaikan pada siding yang singkat ini.
Wassalam,
HaBe
Catatan: Artikel Ini adalah lanjutan dari kisah perjalanan haji kami pada tahun 1998, yang telah kami sampaikan sebelumnya pada RHJ: Kisah Kami Naik Haji. Semoga bermanfaat.
Comments