Bhinneka Tunggal Ika
Assalamu’alaikum WW,
Selama dua akhir pekan terakhir, masyarakat Indonesia yang bermukim di Brisbane tanpa banyak kesulitan dan kericuhan berhasil terlibat didalam setidaknya tiga acara yang bersifat multikultural: halal-bi-halal (HbH) yang dihadiri sekitar 400-an orang di Svoboda Park-Kuraby, pesta olahraga antar mahasiswa 5 negara Asean yang berpusat di UQ-St. Lucia dan festival tahunan multikultural yang diselenggarakan oleh Pemerintah Queensland di Roma Street Parkland, City.
Tidak semua orang Indonesia yang ada di Brisbane hadir di HbH, bahkan praktis hanya peserta pertandingan dan sedikit pengurus organisasi saja yang menghadiri pesta olahraga di atas. Begitu pula, orang Indonesia yang hadir dalam festival multikultural, mungkin hanya terbatas kepada para penari dan keluarga serta sahabat terdekat saja. Dua acara terakhir memang diwarnai oleh hujan yang jatuh sporadis sepanjang hari.
Tidak mengapa, bila semua acara yang bertujuan mulia untuk menggalang keakraban antar manusia yang berlainan agama, suku, ras, kewarganegaraan itu tidak dihadiri oleh lebih banyak orang sebagaimana mungkin diharapkan oleh panitia masing-masing kegiatan. Semua yang tidak hadir kiranya memiliki satu atau lebih alasan yang ‘legitimate’ untuk tidak hadir, walau acara-acara tersebut sudah dirancang dengan mengakomodasikan sebaik mungkin seluruh perbedaan (keanekaragaman) yang ada.
Upaya menyatu-padukan manusia dalam banyak hal, upaya menyelaraskan gerak kehidupan ummat manusia, adalah satu upaya yang tidak akan pernah dapat dituntas-habiskan, apatah pula dalam waktu singkat. Keberagaman SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan) serta macam ragam fisik dan non-fisik lainnya yang ada, sebagai konsekuensi dari fitrah manusia yang dianugerahi akal dan ‘free-will’ oleh Sang Pencipta, akan menghasilkan kombinasi perilaku dan kemampuan manusia yang jumlahnya mungkin melebihi benda-benda langit yang menghiasi jagad raya fana ini. Bahkan hanya untuk seorang anak manusia saja, potensi jumlah pilihan tindakan yang dimilikinya sudah melebihi jumlah bintang-bintang di langit, sebagai hasil dari potensi kemampuan otak manusia yang memiliki setidaknya 100 milyar sel-sel syaraf yang dapat berhubungan dan berinteraksi antara satu dengan lainnya. Satu aksi sederhana, satu aktivitas otak, sebagaimana satu perintah sederhana dalam sistem komputer, akan menghasilkan satu jaringan koneksi antar beberapa sel syaraf otak tersebut. Bayangkanlah kini berapa kombinasi, atau tepatnya permutasi yang dapat dihasilkan dari sebagian atau keseluruhan sel-sel otak seorang manusia dewasa sebanyak tersebut di atas? Sebagai gambaran sederhana, permutasi penuh yang dihasilkan oleh hanya 5 syaraf otak adalah 5 x 4 x 3 x 2 x 1 = 120. Dengan demikian permutasi penuh yang dapat dihasilkan oleh 100 milyar syaraf otak adalah: 100 milyar x (100 milyar-1) x (100 milyar-2) x (100 milyar-3) … dst.nya hingga x 1. Hasilnya: Tak terhitung! Apalagi bila perhitungan di atas juga ditambahkan dengan seluruh permutasi tidak penuh yang melibatkan hanya sebagian saja dari syaraf-syaraf otak tersebut, maka hasilnya adalah angka yang tak terbayangkan besarnya! Lalu, cobalah kombinasikan lagi keragaman setiap individu manusia tersebut dengan individu-individu lainnya yang ada di muka bumi ini, maka tak terperikan jumlah pilihan fikiran, tindakan ataupun situasi yang dapat tercipta di suatu saat di muka bumi ini, bahkan di suatu kegiatan kecil seperti HbH tersebut di atas.
Kiranya pemahaman, kesadaran akan tingkat keragaman fikiran dan tindakan manusia yang begitu besarnya ini dapat menjadikan kita lebih bersabar dan lebih berhati-hati di dalam menjalankan kehidupan sosial di dunia ini; menjadikan kita untuk tidak seenaknya memaksakan kehendak atas sebagian manusia lainnya, walau menurut akal atau ilmu kita kehendak tersebut adalah untuk kebaikan masing-masing dan bersama.
Wassalam,
HaBe
Comments