Arif
Assalamu’alaikum WW,
Ketika sedang berjalan melintas gurun pasir gersang yang relatif datar, yang hanya ditumbuhi sedikit rerumputan dan perdu, kaum Aborigin Australia sesekali akan berhenti sejenak dan menebar pandangan untuk mengevaluasi situasi di depan dan sekeliling, baru kemudian tertunduk kembali untuk mengawasi setiap ayunan langkah kaki telanjangnya saat meneruskan perjalanan. Dengan teknik berjalan seperti ini, maka mereka akan terhindar dari kemungkinan tersesat (dengan berhenti dan menatap ke depan) dan dari kemungkinan terinjak duri, batu tajam atau binatang berbisa (dengan menunduk saat berjalan). Teknik berjalan ini tentunya berbeda dengan masyarakat kota yang terbiasa berjalan dengan wajah tegak dan mata yang selalu menatap ke depan atau menebar pandangan ke sekeliling, siaga terhadap kemungkinan datangnya bahaya lalulintas.
Sekarang mari bayangkan apa yang terjadi bila seseorang yang sudah terbiasa hidup di lingkungan padang pasir yang terasing, kemudian harus mendatangi lingkungan perkotaan yang hiruk-pikuk dengan pergerakan manusia dan kendaraan? Atau sebaliknya, seorang yang terbiasa hidup di kota diminta untuk mengunjungi lingkungan terasing yang jauh dari fasilitas umum? Tentulah, dengan mudah dapat dikatakan bahwa mereka akan dihadang oleh bahaya yang cukup besar bila tidak mampu menyesuaikan cara berjalan di lingkungan yang baru mereka datangi.
Bagaimana kalau contoh di atas diperlebar dengan misalnya tentang teknik berjalan orang yang terbiasa hidup di lingkungan yang selalu tertutup es? atau yang selalu tergenang air? Atau yang terbiasa hidup di dataran tinggi yang tipis kadar oksigennya? Masing-masing lingkungan tentu akan menciptakan kebiasaan berjalan yang berbeda.
Gambaran perbedaan di atas dapat kita perluas lagi dengan berbagai perbedaan latar belakang kehidupan lainnya, baik yang fisik seperti contoh di atas, maupun yang non-fisik seperti perbedaan latar belakang agama, ras, pendidikan, dan kesejahteraan. Kesemuanya tentu akan menghasilkan lagi beragam ‘teknik berjalan’ agar mampu bertahan hidup di masing-masing lingkungan spesifiknya.
Terakhir, marilah letakkan semua ragam perbedaan lingkungan fisik dan non-fisik kehidupan itu dalam satu batas administrasi negara, Indonesia misalnya. Lalu bayangkan pula bahwa anda adalah orang yang dipercaya untuk memimpin negara tersebut, atau setidaknya menjadi wakil dari sekelompok kaum yang memiliki ‘teknik berjalan’ tertentu. Mungkinkah atau perlukah anda memaksakan semua warga dari negara tersebut untuk menerapkan hanya satu ‘teknik berjalan’ di muka bumi ini? Mampukah anda membuat ‘jalan’ yang persis sama kondisinya di seluruh pelosok negeri?
Wassalam,
HaBe
Comments