Statistik
Assalamu’alaikum WW,
“Bunda … bunda … lenganku sakit … Aku takut, bunda. Tolonglah aku …”, Begitulah rintihan lirih berulang seorang anak perempuan berusia 10 tahun kepada kedua orangtuanya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Anak malang tersebut terbaring di atas tembok tinggi lantai sekolah bertingkat yang runtuh, dimana tangan kanannya hingga ke bahu tertindih bongkahan beton. Ayah-bundanya di bawah hanya bisa memanggil-manggil nama sang puteri sambil mengingatkan ia untuk tetap bertahan, untuk terus bernafas, karena saat itu tidak tersedia alat dan petugas penyelamat yang memadai untuk dapat mengangkat bongkahan beton yang menghimpitnya. Dua hari anak tersebut mencoba bertahan, namun ketika akhirnya pertolongan tiba, nyawanya telah pergi menghadap Sang Pencipta.
Kedua orangtua yang sudah berusia 35 tahunan tersebut adalah satu dari ribuan, bahkan puluhan ribu pasutri yang kehilangan satu-satunya anak mereka akibat gempa besar yang melanda Provinsi Sichuan yang berada di baratdaya Cina pada hari Senin minggu lalu, saat sekolah-sekolah masih dipenuhi oleh para pelajar yang riang menimba ilmu untuk menyongsong masa depan. Mungkin lebih dari 7000 kelas rusak binasa dan diperkirakan sekitar 40 persen dari total korban jiwa yang ditimbulkan oleh bencana alam ini adalah anak-anak, di negeri dimana hampir setiap pasutri hanya (boleh) memiliki satu anak saja.
Sementara, dari Jakarta, satu berita kecil menyebutkan bahwa dalam tiga bulan terakhir ini, sekitar 600 ‘bikers’ (pengendara sepeda motor) melepas nyawanya akibat kecelakaan lalulintas. Artinya, baru di Jakarta saja, rata-rata sudah 6,6 orang meninggal per hari akibat kecelakaan lalulintas. Statistik kematian tersebut tentunya dapat terus ditambahkan dengan penyebab-penyebab kematian lainnya seperti pembunuhan, bunuh diri dan busung lapar.
Bagi sebagian besar orang, pembaca berita, pengumpul dan pengolah data kependudukan, … bagi kita-kita ini …, kesemuanya itu tidak lebih dipandang sebagai angka statistik semata. Betul bahwa beritanya dan besaran angkanya akan mampu menimbulkan sedikit rasa iba di hati. Namun, sempatkah terpikirkan oleh kita bahwa suatu saat nanti bisa saja diri kita sendiri atau anggota keluarga batih kita sendiri atau keluarga dekat dan jauh lainnya yang menjadi korban, melengkapi angka-angka tersebut? Bila demikian adanya, barulah kita akan tersadarkan untuk menilai apakah pantas hal itu terjadi? Pantaskah seseorang yang dekat dengan diri kita mati akibat tindak kejahatan, kelalaian, kemalasan, keengganan, ketidakpedulian yang dilakukan orang lain? atau akibat dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup dasar? Siapkah kita menjadi dua orang tua dari seorang anak perempuan malang tersebut diatas? Relakah kita menerima kenyataan bahwa gedung sekolah tersebut diduga dibangun dengan spesifikasi di bawah standar? Wajarkah berita kematian seorang balita akibat busung lapar? Maha benar Allah dengan sabdanya bahwa tindakan membunuh satu orang, baik secara langsung maupun tidak langsung, sama saja dengan melakukan pembunuhan terhadap seluruh ummat manusia, karena bila orang yang terbunuh itu adalah diri kita sendiri atau anggota keluarga tersayang, maka bukankah ‘kiamat’ sudah rasanya dunia ini?
Statistik kiranya bukanlah sekedar deretan angka. Ia adalah catatan sejarah hasil perbuatan baik dan buruk dari manusia-manusia yang terlibat didalam penciptaannya. Sungguh cupatlah kita bila tidak mau belajar dari sejarah. Sungguh rendahlah ahlak kita bila kita meremehkan maknanya, … hanya karena kita tidak atau belum masuk didalamnya. Disinilah kesadaran kita muncul untuk tidak lagi menutup mata atas kekurangan, kelalaian, kesalahan atau kejahatan yang dilakukan sesama, karena cepat atau lambat kita sendirilah yang akan menjadi korbannya.
Wassalam,
HaBe
Comments