Monday, May 21, 2012
 

Naif II

Assalamu’alaikum WW,

Kedua insan ini sama-sama mengatakan: “tidak mungkin”.  Dan yang dibicarakan pun adalah hal yang sama, yaitu soal dugaan yang dilansir KaBIN tentang adanya mata-mata fihak asing yang telah menyusup kedalam kabinet SBY dan kabinet sebelumnya. Hanya saja bagi AM-1, sang juru bicara SBY yang flamboyan itu, yang dimaksudnya sebagai tidak mungkin itu adalah kebenaran dari dugaan tersebut. Sedangkan bagi AM-2, mantan direktur BAKIN yang vokal, maka menurutnya yang tidak mungkin adalah bahwa BIN telah sembarangan ngomong tanpa bukti. Jelas sulit untuk memastikan siapa yang benar. Karena keduanya tidak bisa secara terbuka menjelaskan metoda, data dan sumberdaya yang telah digunakan untuk tiba kepada kesimpulan masing-masing.

Namun sebagai awam yang percaya dengan pepatah ‘ada asap, ada api’, maka tentu timbul kekhawatiran kita terhadap pendapat kedua kubu tersebut. Terhadap AM-1, kenapa dan bagaimana ia bisa sampai secepat itu mengambil kesimpulan? Sedangkan terhadap AM-2, bagaimana kalau memang ia benar? Dari sini tentu imajinasi kita akan mudah mengembara dan membayangkan hal-hal yang sangat menggganggu fikiran, karena jelas pada tingkat individu berlaku pepatah ‘penghianatan lebih kejam dari pembunuhan’, dan pada tingkat negara tentunya berlaku ‘spionase lebih kejam dari kudeta?’

Kegiatan intelijen atau spionase adalah suatu keharusan, bagian yang tidak terpisahkan dari sistem keamanan nasional. Pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan empunya tersebut bertujuan, utamanya, untuk memprediksi secara lebih tepat dan sebenar-benarnya tentang tingkat kemampuan, maksud dan rencana, taktik dan strategi ataupun kebiasaan dan kesukaan dari orang, organisasi, perusahaan atau negara yang dimata-matai.

Ah, kebiasaan memata-matai bisa jadi setua usia manusia, eniwe. Bahkan hal itu tidak saja dilakukan oleh fihak-fihak yang secara frontal berlawanan, karena banyak bukti kegiatan intelijen dan kontra-intelijen juga dilakukan antar fihak yang di luar nampak bersahabat baik. Satu contoh saja: akhir bulan April lalu Pemerintah Amrik menangkap seorang veteran tentara angkatan darat (AD) berusia 84 tahun karena terbukti telah menjual informasi rahasia pertahanan Amrik ke fihak Israel. Ia telah melakukannya sejak tahun 1979 hingga 1985, saat ia bekerja sebagai insinyur mesin di satu pusat persenjataan AD di New Jersey. Ia salurkan dokumen-2 rahasia kepada Konsul Ilmu Pengetahuan Israel di New York. Bahkan ia diduga juga menjadi salah satu agen penghubung seorang mata-mata Israel lainnya yang juga warga negara Amrik dan bertugas sebagai perwira angkatan laut (AL)di Pentagon, yang kini sedang menjalani hukuman seumur hidup. Padahal, komunitas intelijen Amrik selama ini selalu bekerjasama erat dengan komunitas semacam di Israel, semesra hubungan kedua kepala pemerintahan mereka.

Ruwet dan berbahaya memang dunia spionase, namun satu hal yang harus dipastikan adalah bahwa komunitas intelijen Indonesia hendaknya bekerja secara profesional dan semata demi keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan bangsa. Mereka juga harus mampu menangkal upaya asing, baik dari negara sahabat maupun bukan, untuk memata-matai dan mengerjai Indonesia, apalagi dengan menggunakan orang-orang Indonesia sendiri.

Khawatir memang melihat dunia intelijen Indonesia yang rasanya belum mendapat dukungan moril dan finansial yang semestinya, sehingga belum mampu memiliki orang-orang dan teknologi terbaik yang dibutuhkan. Namun, dengan menyadari bahwa kalaupun intelijen asing berhasil menanamkan agen-agennya atau peralatan penyadapnya di lingkungan Istana, apa juga sih info yang akan mereka dapatkan? Seberapa tinggi tingkat kepercayaannya? Disinilah agaknya kebiasaan kebanyakan kita (maksudnya: orang-orang Istana yang datang dari berbagai partai dan kepentingan itu …) untuk berbohong, tidak yakin, tidak tegas, tidak tepat waktu, plin-plan, yes-sir sambil mengepalkan tangan di bawah meja (baca: nge-blangkon), dan segala turunannya, akan  menunjukkan manfa’atnya, karena akan menyebabkan dinas intelijen asing pusing tujuh keliling ketika  mencoba menganalisis data dan info hasil sadapannya J

Wassalam,

HaBe

Share
 

Comments

No comments so far.
  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     

     
     
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »