Monday, May 21, 2012
 

Mengarifi Krisis Pangan dengan Membudayakan Puasa

Kejutan kenaikan harga pangan kembali terjadi. Harga beras dunia benar-benar menembus $1000/ton (sekitar Rp. 9000/kg), rekor yang kesekian kali selama tahun 2008 yang baru berjalan kurang dari 4 bulan ini. Kalau dilihat statistiknya, sejak Januari 2008 harga beras dunia telah mengalami pelonjakan hampir tiga kali lipat (270 persen). Suatu kenaikan yang fantastis, dan susah dibayangkan sebelumnya. Kenaikan ini juga lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Awal Maret lalu, eksportir beras di Thailand meramalkan bahwa harga beras di atas $1000 per ton baru akan terjadi pada akhir Juni mendatang.

Melambungnya harga beras dunia kali ini memang luar biasa. Akibat tingginya permintaan dan turunnya penawaran beras karena perubahan iklim global, serta kesalahan negara maju (terutama AS) yang mengubah fungsi pangan dan lahan pertanian untuk memproduksi biofuel, stok beras dunia saat ini tinggal 70 juta ton. Persediaan ini kurang dari setengah stok beras dunia pada tahun 2000 yang saat itu mencapai 150 juta ton, terendah selama 25 tahun terakhir.

Kenaikan harga beras dunia ini bahkan telah mematahkan hasil-hasil penelitian ekonomi perberasan yang pernah dilakukan sebelumnya. Banyak tesis dan antitesis yang harus dikaji ulang. Bila tadinya kita berbicara impor, sekarang kita berbicara (peluang) ekspor. Jika tadinya kita pernah meributkan soal import tariff, kini beberapa negara eksportir beras seperti India dan Vietnam sudah memberlakukan export tariff.

Harga beras yang tadinya murah, kini menjadi sangat mahal. Kenaikan yang fantastis ini salah satunya disebabkan oleh sifat permintaan beras yang inelastis sempurna. Sifat beras sebagai makanan pokok membuat permintaan beras tetap (tinggi), berapapun harganya. Oleh karena itu, ketika suplai beras terganggu, maka fenomena yang terjadi adalah kenaikan harga yang tak terkendali.

Tentunya, hal ini membuat kita semua prihatin. Banyak orang pun berpikir, tentang upaya apa yang harus ditempuh agar krisis pangan (yang berbarengan dengan krisis energi) ini, dapat se segera mungkin diakhiri. Atau paling tidak, jika kita berpikir dari sisi dampak, maka perlu dipikirkan bagaimana agar dampak (negatif) yang ditimbulkannya dapat diminimalisir. Karenanya, orang (baca: pakar) pun mulai membuka wacana tentang apa yang harus dilakukan.

Pemerintah pun telah berpikir keras untuk mengatasi persoalan krisis pangan ini, terutama terkait dengan melonjaknya harga beberapa pangan pokok termasuk beras. Langkah-langkah strategis pun telah ditempuh. Di samping memacu produksi dan produktivitas pertanian, pemerintah juga telah merekomendasikan untuk tidak melakukan ekspor beras untuk sementara. Pemerintah juga menaikkan HPP beras. Kenaikan HPP diharapkan dapat memberikan efek positif terhadap kenaikan harga gabah di tingkat petani, yang pada gilirannya akan menstimulasi petani untuk lebih giat lagi menanam padi. Guna mendorong upaya-upaya peningkatan produksi pertanian di tanah air, anggaran subsidi pertanian pun telah ditingkatkan dari 19 triliun menjadi 23 triliun rupiah.

Bisa jadi, apa yang dilakukan pemerintah sudah tepat, namun mungkin belum mencakup keseluruhan dari apa yang kita inginkan. Dana subsidi 23 triliun pun barangkali masih terlalu sedikit. Namun, dalam kondisi sekarang, di mana APBN sedang kritis akibat menggelembungnya subsidi BBM karena kenaikan harga minyak dunia yang mencapai $117/barel, sulit bagi pemerintah untuk berbuat lebih banyak.

Budayakan Puasa

Saat kongkow-kongkow (baca: chatting), saya bersama beberapa teman sempat membicarakan perihal krisis pangan ini. Wacana soal bagaimana mengatasi krisis pangan pun menjadi sangat berkembang. Exit strategies apa yang perlu dilakukan pemerintah pun disebutkan satu persatu, seperti intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi, perbaikan pola (kelembagaan) distribusi dll. Kebanyakan wacana tersebut sudah pernah saya dengar ataupun pernah saya baca sebelumnya. Namun, ketika diskusi menjadi begitu masyuk, wacana justru mengarah pada hal-hal yang bersifat sangat humanis.

Salah satu yang menurut saya sangat menggelitik adalah usulan salah seorang teman untuk mengubah pola makan kita, menuju pola makan yang lebih hemat dengan cara puasa. Puasa? teman yang lain kembali menanyakan, dan kemudian disambut tawa renyah beberapa orang di antara kami. Yang mengusulkan pun kemudian mengiyakan, ya.. puasa? kenapa tidak, sergahnya. Ia pun kemudian memaparkan kebiasaan orang-orang terdahulu tentang puasa, dan menjelaskan panjang lebar tentang manfaat puasa.

Sore harinya, saya pun berpikir, ah menarik juga bila puasa diwacanakan sebagai suatu “gerakan nasional”. Mengapa tidak? Bukannya saya ingin mengulangi apa yang teman saya jelaskan, tapi saya ingin mengatakan bahwa manusia secara manusiawi mempunyai kemampuan untuk menahan diri. Bahkan semua agama (paling tidak yang diakui keberadaannya di Indonesia) mengajarkan berpuasa. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, maupun Budha semuanya memiliki tradisi berpuasa. Nah, jadi kenapa kita tidak mencoba membudayakan puasa sebagai langkah strategis untuk mengatasi krisis pangan, bahkan krisis multidimensi (resesi ekonomi) yang melanda dunia saat ini.

Saya tiba-tiba begitu yakin bahwa untuk meminimalisir dampak dari resesi ekonomi dunia di tanah air, gerakan hemat energi yang telah dicanangkan oleh pemerintah perlu dibarengi dengan gerakan hemat bahan pangan melalui puasa. Hal ini mengingat, selain menghemat kuantitas bahan pangan yang dikonsumsi, puasa juga mendidik kita untuk bisa menahan diri. Dengan berpuasa kita tak hanya membersihkan pencernaan, tetapi juga jiwa.

Tentunya, gerakan ini harus dipelopori oleh para pemimpin bangsa. Pemimpin yang istiqamah berpuasa, umumnya akan lebih arif ketimbang mereka yang jarang berpuasa. Secara sosial puasa membiasakan insan untuk berlaku disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, juga melahirkan perasaan kasih sayang dan mendorong mereka berbuat kebajikan. Bahkan, dalam berbagai cerita epics (epos kepahlawanan) sebelum menjadi pemimpin, seorang ksatria umumnya diwajibkan untuk bersemedi (disertai puasa).

Puasa yang baik akan menanamkan jiwa-jiwa ksatria seperti jujur, bisa dipercaya, bijaksana dan adil bagi pelakunya. Jika seluruh bangsa Indonesia, baik kaya maupun miskin, mulai dari para ulama, umara (para pemimpin dan pejabatnya), wakil rakyatnya, tentaranya, polisinya, hakimnya, jaksanya, pengusahanya, gurunya, PNS-nya, para pedagangnya bahkan petaninya punya kebiasaan berpuasa, saya yakin krisis pangan pasti takkan menjadi hantu di negeri ini, karena pasti akan berakhir.

Dengan dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang bersih, jaman keemasan Indonesia pun bukan lagi suatu utopia. Persoalannya, beranikah para pemimpin menjadikan puasa sebagai gerakan nasional?

Joni Aji

http://joniaji.blogspot.com/

Share
 

Comments

No comments so far.
  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     

     
     
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »