Monday, May 21, 2012
 

Naif

Assalamu’alaikum WW,
Kegiatan intelijen (telik sandi) adalah suatu keniscayaan. Tak ada negara yang tidak melakukan kegiatan pengumpulan informasi secara rahasia ini, baik melalui dinas-dinas intelijen resmi atau dengan memanfaatkan lembaga-lembaga lain atau individu-individu yang dibina dan dilatih untuk menjadi mata-mata. Misalnya saja, enam orang turis Cina yang baru saja berhasil dibebaskan dari upaya penculikan di Aceh, ternyata kedapatan mengumpulkan contoh-contoh bahan tambang dari desa-desa yang dikunjungi. Pastilah mereka itu agen dari salahsatu konsorsium perusahaan tambang mineral Cina, yang notabene pemegang sahamnya adalah pemerintah Cina (People’s Republic of China).

Oleh karena itu adalah naif bila Indonesia menganggap aktivitas unit penelitian kesehatan angkatan laut Amerika Serikat, NAMRU, di Indonesia selama lebih dari 3 dekade ini tidak pula dimanfaatkan oleh fihak intelijen Amerika. Mudah dibayangkan, dengan kecanggihan peralatan deteksi dan komunikasi yang dimiliki unit tersebut, maka mungkin sudah tidak ada lagi potensi bahari Indonesia yang belum disurvai, ditambah dengan keleluasan yang dimiliki untuk mengumpulkan berbagai strain virus, bakteri dan jamur yang ada di Indonesia bagi kepentingan pengembangan farmasi dan kesiapan unit (anti) perang biologi mereka. Terkait dengan kasus NAMRU yang ternyata telah habis kontrak kerjanya sejak tahun 2000 lalu, tersebar pula gosip hangat bahwa salahsatu juru bicara Presiden SBY adalah juga seorang agen intelijen Amerika; suatu tuduhan yang bukan tidak mungkin berdasar, karena dulu sekali pernah seorang mayor angkatan laut Indonesia tertangkap tangan menjual dokumen penting negara.

Dalam konteks ini maka keberanian DR. dr. Siti Fadilah Supari, MenKes RI, yang mempertanyakan manfaat keberadaan NAMRU bagi Indonesia patut mendapat acungan jempol. Karena tidak mungkin dunia intelijen Indonesia tidak dapat mengendus sebelumnya; namun mengapa pula dibiarkan sebegitu lamanya?

Pukulan telak Ibu Menteri dari kota Solo tersebut di atas sesungguhnya telah didahului pula oleh tendangan-tendangan tajam beliau terhadap WHO dan Amerika Serikat yang dipandang telah menculasi Indonesia dalam penanganan flu burung yang melanda Indonesia baru-baru ini. WHO selama ini ditengarai menjadi bakul-pengumpul strain-strain virus flu burung dan virus-virus penyakit lainnya untuk diberikan kepada Amerika dan perusahaan-perusahaan farmasi pembuat vaksin seperti Pfizer. Indonesia dengan patuh mengirimkan sampel-sampelnya, namun kemudian tidak bisa mengaksesnya kembali, termasuk hasil-hasil penelitian atas sampel-sampel tersebut. Lebih parah lagi, vaksin-vaksin yang diduga dikembangkan dari sampel-sampel tersebut ternyata telah diborong habis terlebih dahulu oleh negara-negara maju (kaya) sehingga menjadikan negara-negara penderita seperti Indonesia menjadi kelabakan untuk mendapatkannya dalam jumlah banyak dan harga yang terjangkau di pasaran internasional. Tidak ada sedikitpun ‘kompensasi harga’ atas sumbangan Indonesia dalam hal pengembangan dan fabrikasi vaksin flu burung tersebut. Serangan jibaku Ibu Menteri ini kemudian diakhiri dengan memutuskan bahwa Indonesia tidak lagi bersedia berbagi virus dengan WHO sejak Januari 2007 lalu.

Bila bukan karena memiliki jiwa patriot yang tinggi, maka setidaknya dapat dipastikan beliau ini adalah penggemar setia bacaan dan film yang bertemakan spionase atau konspirasi.

Wassalam,

HaBe

Share
 

Comments

No comments so far.
  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     

     
     
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »