Monday, May 21, 2012
 

The Mighty China

Assalamu’alaikum WW,

Apapun yang terkait dengan negeri berpenduduk yang berkulit warna kuning tahu ini, selalulah kolosal ukurannya. Jumlah penduduknya saja 1330 juta, atau setara dengan 63 kali lipat penduduk Australia, tersebar di wilayah seluas Australia ditambah Indonesia. Sebagai suatu negara, Cina sudah menyatu sejak 221 SM, atau 2000 tahun sebelum Amerika menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1776 M. Namun, sebagai suatu kebudayaan yang solid, bangsa Cina sudah ada dan berjaya sejak sekitar 6000 tahun yang lalu. Tidak banyak pusat-pusat kebudayaan lainnya di dunia yang setua dan sebesar Cina, dan tidak ada satupun diantara mereka yang mampu bertahan dan berkembang seperti Cina. Negeri ini telah berhasil menyatukan diri dan bertahan terhadap berbagai serangan bangsa-bangsa sekitar, khususnya bangsa Mongolia di Utara dengan Kubilai Khan dan Jengis Khannya yang perkasa itu.

Negeri ini sempat menutup dirinya dari pengaruh dunia luar sejak Abad ke-15, setelah sebelumnya dikenal sebagai bangsa penjelajah yang armada lautnya sangat besar, terbesar, yang telah menjelajah ke seluruh pelosok dunia, jauh sebelum Magellan, Kapten Cook dan Columbus melakukan pelayaran keliling dunianya. Berbeda dengan negara-negara maritim lainnya pada abad pertengahan seperti Portugis, Spanyol dan Inggris, misi-misi pelayaran Cina bukanlah dengan maksud untuk menjajah. Mereka membuka jalur perdagangan dan pertukaran kebudayaan dan ilmu dengan ribuan negeri yang dikunjunginya. Koloni-koloni Cina bertebaran dimana-mana, di seluruh benua. Mereka selalu menganggap dirinya sebagai bangsa yang tinggi peradabannya, sedemikian rupa sehingga memandang bangsa-bangsa lain sebagai ‘bangsa barbar’, suatu sikap yang masih dapat dirasakan hingga kini.

Kini, kembali negeri ini menjadi pusat perhatian dunia, bukan saja karena persiapan spektakuler yang sedang dilakukan negeri tersebut untuk menjadi tuan rumah Olimpiade, namun karena pertumbuhan ekonominya yang luarbiasa sejak negeri ini pada tahun 1978 mulai membuka diri kembali terhadap sistem perekonomian kapitalis, dimotori oleh PM Deng Xiaoping. Hanya dalam waktu tiga dekade, Cina berhasil menjadi salahsatu raksasa ekonomi dunia, dengan tingkat pertumbuhan di atas dua digit selama beberapa tahun terakhir ini dan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 800 juta orang.

Kiranya pantas bagi kita untuk mengetahui tentang dan belajar lebih banyak dari Cina. Di negeri yang belakangan secara resmi menyatakan diri ateis ini, sesungguhnya kehidupan sehari-hari masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai ketuhanan berdasarkan ajaran Konfusius, Tao dan Budha yang telah mengakar lama. Namun, agama-agama baru, seperti Kristen (3-4% dari jumlah penduduk) dan Islam (1-2% dari jumlah penduduk) juga dibiarkan bertumbuh, selama tidak mengganggu stabilitas politik dan keamanan negeri tersebut.

Tidak mudah untuk menggambarkan Cina dalam ruang yang sempit ini. Namun mungkin kutipan sajak seorang sastrawan Cina berikut ini, cukup mampu untuk menjelaskan apa yang telah dialami dan dirasakan Cina sejak sekitar 170 tahun yang lalu, saat negeri ini terlibat ‘Perang Candu’, hingga kini, … ketika Cina memutuskan untuk menjalankan roda ekonominya secara cepat, sedemikian rupa sehingga berhasil menggeser dominasi Jepang dalam hal jumlah jenis barang yang ada dalam suatu rumahtangga:

Ketika kami tertutup,
Kau selundupkan narkoba.
Ketika kami buka pasar bebas,
Kau anggap mencuri lapangan kerja.
Ketika kami miskin,
Kau hinakan kami seperti anjing.
Ketika kami maju,
Kau anggap kami ancaman.
Ketika negeri kami terbelah-belah,
Kau ambil satu irisan melonnya.
OK, Lalu kami jadi negara komunis,
Tapi lantas kau benci kami.
Ketika kami menerima kapitalisme,
Kau tetap juga membenci kami.
Ketika penduduk kami 1 miliar,
Kau tuduh kami mau kuasai planet.
Ketika kami galakkan KB,
Kau tuduh kami tidak manusiawi.
Ketika kami miskin,
Kau anggap kami pengemis.
Ketika kami mulai pinjami kau uang,
Kau tuduh kami penambah utang kalian.

(Sumber: Jawa Pos Online pada Senin, 21 April 2008)

Mari sejenak-dua kita alihkan perhatian kita dari Barat ke Utara. Banyak kiranya yang bisa kita pelajari dari negeri tirai bambu ini. Bagaimanapun, siapa pula yang tidak akan bersiaga bila seekor naga terjaga?

Wassalam,

HaBe

Share
 

Comments

No comments so far.
  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     

     
     
 
Indonesian Islamic Society of Brisbane

Membangun ukhuwwah islamiyyah dan insaniyyah kaum muslim dan non muslim di Brisbane

Learn more »
Address
  • IISB
    PO BOX 4326
    ST LUCIA SOUTH QLD 4067
Get in touch

Online contact form »