Akal menggapai Tuhan
Assalamu’alaikum WW,
Mari sejenak kita menengadahkan kepala menatap ruang angkasa. Benda alam apakah yang kita ketahui ada di luar sana? Matahari, Bulan, komet, awan, dan kerlipan bintang-bintang sajakah? Tahukah kita apa itu Mars, Jupiter dan planet-planet lainnya yang mengelilingi Matahari kita? Juga meteor, asteroid? Bagaimana dengan Galaksi Jalur Susu dan milyaran galaksi lainnya? Nebula, Supernova, Big Bang dan Black Hole? Bahkan telah diketemukan pula adanya bagian dari langit yang sangat luas, dengan diameter jutaan tahun cahaya, yang ternyata tidak berisi satu benda langit apapun, kosong-melompong; suatu kondisi yang berbalikan dengan kondisi Black Hole (Lubang Hitam) yang sangat padat berisi hancuran benda-benda langit yang terhisap kuat kedalamnya. Seberapa luaskah jagad raya ini? Betul bulatkah ia? Bertepikah ia? Kenapa pula manusia berada hanya di satu Planet Bumi yang kecil ini? Adakah planet-planet lainnya yang semacam dengan Bumi? Adakah mahluk hidup di luar Bumi ini? Sejauhmanakah pemahaman kita tentang alam semesta ini? Mungkinkah Surga dan Neraka yang konon bertingkat tujuh itu berada di suatu tempat jauh di atas sana?
Sejak dua abad terakhir ini, akumulasi pengetahuan dan kemampuan manusia begitu besarnya dan bertambah dengan kecepatan yang sangat fantastis. Siapa pula yang berani mengatakan bahwa peradaban manusia sudah mencapai puncaknya? Kalaulah akal ini memang memiliki keterbatasan kemampuan, … bahwa jumlah ilmu manusia itu bak setetes air di tengah samudera ilmu Tuhan, … namun siapa pula yang dapat memastikan bahwa manusia tidak dapat menyingkap lebih banyak lagi misteri alam semesta ini? Tengok saja akal fikiran kita masing-masing, adakah seorang yang sehat, normal, yang dapat memastikan bahwa dirinya memiliki keterbatasan khayalan? Bukankah banyak dari khayalan itu yang merefleksikan keraguan, ketidakyakinan, atau setidaknya keinginan, ‘permintaan’ untuk mendapatkan bukti ketuhanan yang lebih sahih, lebih nyata, lebih dekat, bahkan kalau dapat yang bersifat lebih personal?
Pada saat ini, saat dimana sebagian besar kita disibukkan dengan upaya memenuhi kebutuhan dasar fisik dan rohani sehari-hari, maka ada sebagian kecil lainnya yang sedang berbuat lebih bagi kemanusiaan, yaitu mendedikasikan waktu dan fikirannya untuk menguak misteri alam semesta ciptaaan Tuhan. Tahukah kita sudah sejauh mana pengetahuan manusia tentang alam semesta ini? Dan yang lebih penting lagi, apakah kita, sebagai mahluk yang beriman, kemudian dapat menarik manfaat dari kemajuan pengetahuan tersebut? Akan terhapuskah nantinya, satu pertanyaan besar, satu keraguan besar yang selalu timbul dan mengganggu kalbu ini, yaitu benarkah Tuhan itu ada? Cukupkah hati ini terpuaskan dengan argumentasi bahwa segala kedahsyatan dan keteraturan alam semesta ini tidak akan mungkin ada tanpa adanya Sang Pencipta? Sang Maha Pengatur? Puaskah kita dengan bukti-bukti yang ada saat ini? Kenapa pula ada rasa tidak puas diselipkan Tuhan dalam hati kita? Apakah keraguan hati itu memang sekedar ujian kesetiaan atau ketakwaan? Atau justru pendorong untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam?
Kita akhirnya dihantar kepada pertanyaan tentang esensi dari penciptaan manusia. Kalau memang untuk beribadah, untuk bertakwa kepadaNya, kenapa pula manusia diberikan akal dan segala kebebasan pilihan yang menyertai kemampuan akal tersebut? Bukankah Tuhan mampu menciptakan manusia yang tunduk, patuh dan menyerah sepenuhnya, seperti para Malaikat alaihissalam yang selalu suci dan bebas dari nafsu?
Patut kiranya direnungkan bahwa akal sesungguhnya adalah alat yang disediakan bagi manusia untuk dapat menemukanNya, menggapaiNya. Kalaulah satu manusia dapat menyumbang satu tetes ilmunya, maka tidakkah nantinya tercipta satu danau pengetahuan dari hasil sumbangan seluruh generasi manusia yang pernah, sedang dan akan tinggal di muka Bumi ini? Kiranya hanya dengan bersatu manusia dapat menggapai Yang Maha Satu.
Wassalam,
HaBe
Comments